TABLOIDELEMEN.com – Komunitas Historia Perwira menyelenggarakan diskusi bertajuk ‘Purbalingga, Tempat Lahir Para Perwira’ di Kedai Pojok, Taman Kota Usman Janatin, Jumat 01 Mei 2026
Acara ini menghadirkan pemerhati sejarah, budayawan, penulis buku, hingga aktivis guna membedah sejarah putra daerah.
“Kami ingin mengangkat tokoh-tokoh besar di berbagai bidang yang ternyata lahir di Purbalingga,” ujar pendiri Historia Perwira, Gunanto Eko Saputro.
Gunanto menguraikan sejumlah nama besar, termasuk Jenderal Besar Soedirman yang lahir di Bantarbarang, Rembang pada 1916.
Tokoh penting lainnya yaitu R.M. Margono Djojohadikusumo, kakek Presiden Prabowo Subianto.
“Kakek Presiden Prabowo Subianto, R.M Margono Djojohadikusumo ternyata lahir di Bodas Karangjati, juga Kecamatan Rembang, Purbalingga pada 16 Mei 1894,” ungkapnya.
Margono merupakan sosok pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara era Soekarno-Hatta.
Purbalingga Tempat Lahir Para Perwira
Daftar tersebut berlanjut pada Mayjend Sungkono, komandan tempur Palagan Surabaya 10 November 1945 yang merupakan kelahiran Prapatan Banteng, serta Prof. Soegarda Poerbakawatca asal Desa Prigi, Kecamatan Padamara.
“Prof Soegarda itu mendirikan Universitas Syiah Kuala di ujung barat Aceh, sampai Universitas Cenderawasih di ujung timur Papua dan menjadi rektor pertamanya,” tambah Gunanto.
Sektor seni dan kesehatan juga melahirkan nama mendunia seperti pelukis Mas Pierngadie dan Dokter Gan Koen Han.
Dokter Gan berjasa memproduksi penisilin bagi tentara republik guna mencegah infeksi selama Perang Kemerdekaan.
Gunanto berharap rekam jejak ini memotivasi generasi muda.
“Purbalingga seharusnya lebih terkenal dengan sosok yang inspiratif dan semoga menjadi motivasi yang patut kita teladani,” tegasnya.
Meninjau dari sisi sosiokultural, budayawan Agus Sukoco menilai wilayah lereng Gunung Slamet memiliki budaya otentik yang tidak tergerus pengaruh kerajaan besar masa lalu.
“Kita ini sosial budayanya cenderung otentik. Justru menjadi pelintasan antara kekuasaan di barat dan timur. Penelitian sejarah juga membuktikan justru kita lebih tua, maka wajar jika kemudian lahir tokoh-tokoh besar di sini,” kata Agus.
Peserta diskusi, Achmad Sirojudin, berpendapat bahwa kiprah multidimensi para tokoh tersebut mampu menjadi fondasi pembangunan masa depan.
Senada dengan hal itu, Afit Susanto mendorong adanya langkah nyata pascadiskusi.
“Saya mengajak agar hal ini tidak berhenti disini Tetapi membuat kajian dalam rangka masukan kebijakan pembangunan Purbalingga ke depan,” tuturnya.
Diskusi yang berlangsung hangat tersebut melibatkan puluhan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga masyarakat umum.
Melalui forum ini, sejarah lokal kembali mendapat tempat utama dalam kesadaran publik.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google Berita
















