Alasan Kesehatan dan Restu Keluarga
Hamzah mengakui bahwa mengakhiri karier sebagai manajer bukan perkara mudah, namun ia harus memprioritaskan kondisi kesehatan dan pesan orang tua.
Tekanan serta respons publik pascakemenangan Persibangga menjadi beban tersendiri bagi pihak keluarga yang tengah dalam kondisi kurang sehat.
Ia merasa memiliki kewajiban moral untuk menjaga ketenangan orang tuanya daripada melanjutkan peran di manajemen.
“Orang tua saya tidak tega dan tidak kuat melihat respons yang muncul setelah kemenangan Persibangga. Dalam kondisi beliau yang sedang sakit, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga ketenangan dan tidak menambah beban pikiran keluarga,” ujarnya.
Meskipun memilih menjauh dari hiruk-pikuk manajemen, Hamzah tetap menaruh rasa cinta yang besar terhadap klub dan berharap Persibangga terus berkembang lebih solid pada masa depan.
Ia menyerahkan sepenuhnya mekanisme penunjukan manajer baru kepada pihak Askab PSSI Purbalingga selaku otoritas sepak bola setempat.
Jaminan Transparansi dan Kelanjutan Tim
Guna memastikan stabilitas tim menjelang Liga 4 Nasional, Hamzah telah menjalin konsultasi dengan Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif.
Hamzah meyakini dukungan pemerintah daerah tetap kuat sehingga masyarakat serta pendukung setia tidak perlu merasa cemas akan nasib tim.
Ia juga berjanji melakukan proses transisi yang bersih dengan mengembalikan seluruh aset serta sisa kas keuangan.
Seluruh laporan pertanggungjawaban keuangan selama delapan bulan masa kepemimpinannya akan beralih kepada manajemen baru secara terbuka.
Namun, mundurnya Hamzah dan Afianza memungkinkan memicu kekosongan besar pada struktur manajemen, mengingat sebagian besar staf merupakan orang-orang terdekat Hamzah yang memiliki loyalitas personal cukup tinggi.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google Berita

















