Alasan Muhammadiyah Gunakan Kalender Hijriah Global Tunggal

Alasan Muhammadiyah Gunakan Kalender Hijriah Global Tunggal
Alasan Muhammadiyah Gunakan Kalender Hijriah Global Tunggal

TABLOIDELEMEN.com – Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) merupakan kalender Hijriah umat Islam yang berprinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia atau ada yang menyebut Kalender Islam Global (KIG).

Mengutip laman resmi Suara Muhammadiyah, bahwa jatuhnya tanggal baru Hijriah adalah pada hari yang sama di seluruh muka bumi.

Misalnya tanggal 1 Syawal 1548 H (2124 M), satu abad Masehi yang akan datang

Bacaan Lainnya

Jatuh sama di semua kawasan dunia, yaitu pada hari Hari Jumat, 17 Maret 2124 M, baik di Sidney, OH (Amerika Serikat) maupun di Sydney (Australia)

Sementara Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Bidang Tarjih dan Tajdid, Syamsul Anwar menjelaskan alasan Muhammadiyah beralih ke KHGT

Menurut Syamsul Anwar, KHGT sangat perlu terutama untuk menyatukan jatuhnya hari-hari ibadah umat Islam, terutama yang lintas kawasan.

“Selama ini, pelaksanaan satu ibadah, seperti puasa Arafah, di suatu tempat sering jatuh tidak bersamaan dengan tempat lainnya karena sistem kalender yang berbeda,” katanya.

Sedangkan, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti berharap tidak ada lagi perdebatan waktu pelaksanaan ibadah secara global tidak muncul lagi.

Sehingga energi umat tidak terkuras hanya pada urusan itu saja, sebab masih ada urusan lain yang sangat perlu dari urusan itu.

KHGT ini tidak hanya menjawab perdebatan tiga waktu penting umat Islam itu saja (bulan Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha)

Tapi juga untuk memberikan kepastian waktu-waktu penting yang lain termasuk jadwal salat sehari-hari, perjanjian, dan seterusnya.

Pengembangan KHGT oleh PP Muhammadiyah sekaligus upaya menerapkan ayat-ayat Al-Qur’an dan mengaktualisasikannya di berbagai aspek kehidupan

“Serta ini akan menjadi diskursus baru bagi masyarakat,” katanya.

Sejarahnya, KHGT sendiri telah mendapatkan dukungan formal dari Muhammadiyah melalui Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar pada tahun 2015

Kemudian Muktamar ke-48 di Solo tahun 2022 memperkuat hasil ini.

Jadi, meski hasil putusan Kongres Turki tahun 2016 adalah penting, namun bukan penentu utama.

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *