Peristiwa Isra Miraj, Perjalanan Spiritual Agung Penembus Batas Logika

Umat Islam di seluruh penjuru dunia kembali mengenang peristiwa monumental yang mengubah arah sejarah peradaban, yakni Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.
Umat Islam di seluruh penjuru dunia kembali mengenang peristiwa monumental yang mengubah arah sejarah peradaban, yakni Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.

TABLOIDELEMEN.com – Umat Islam di seluruh penjuru dunia kembali mengenang peristiwa monumental yang mengubah arah sejarah peradaban, yakni Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.

Peristiwa ini bukan sekadar narasi sejarah biasa, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang menembus batas logika manusia serta dimensi ruang dan waktu.

Sebagai fondasi penting dalam akidah, peringatan ini menjadi pengingat nyata akan kekuasaan mutlak Allah SWT dan kemuliaan Rasulullah di hadapan Sang Pencipta.

Data sejarah menunjukkan bahwa Isra Miraj terdiri dari dua fase perjalanan suci yang berlangsung hanya dalam satu malam.

Fase pertama, Isra, merupakan perjalanan horizontal dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina.

Bacaan Lainnya

Lalu fase kedua, Miraj, membawa Nabi Muhammad melintasi tujuh lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha.

Kecepatan perjalanan ini mustahil terjadi tanpa campur tangan Ilahi, mengingat jarak ribuan kilometer tersebut harus ditempuh pada masa saat teknologi transportasi belum berkembang.

Penghibur Lara di Masa Sulit

Latar belakang peristiwa agung ini bermula saat Nabi Muhammad SAW menghadapi fase Amul Huzni atau Tahun Kesedihan.

Saat itu, Rasulullah baru saja kehilangan dua sosok pelindung utama, yaitu sang istri Khadijah dan sang paman Abu Thalib.

Kehilangan dua pilar pendukung dakwah ini membawa duka mendalam bagi hati Nabi.

Maka, Allah SWT memberikan penghiburan melalui perjalanan Buraq, sebuah kendaraan surga yang memiliki kecepatan luar biasa sejauh mata memandang.

Dalam prosesi tersebut, Malaikat Jibril mendampingi Nabi menembus setiap lapisan langit.

Sejarah mencatat pertemuan Nabi dengan para nabi terdahulu, mulai dari Nabi Adam AS di langit pertama hingga Nabi Ibrahim AS di langit ketujuh.

Puncak perjalanan ini terjadi di Sidratul Muntaha, sebuah tempat tertinggi yang tidak terjangkau oleh makhluk apa pun, termasuk malaikat.

Selanjutnya, Allah SWT menurunkan perintah ibadah yang menjadi tiang agama bagi setiap Muslim.

Transformasi Perintah Salat Lima Waktu

Proses penerimaan perintah salat merupakan inti paling krusial dari peristiwa Miraj.

Awalnya, Allah SWT menetapkan kewajiban salat sebanyak 50 waktu dalam sehari semalam.

Namun, melalui saran Nabi Musa AS dan permohonan keringanan yang Nabi Muhammad ajukan berulang kali, jumlah tersebut berkurang hingga menjadi lima waktu wajib.

Perintah ini memiliki kedudukan istimewa karena Nabi menerimanya secara langsung tanpa melalui perantara Malaikat Jibril, menandakan kedekatan hamba dengan Tuhannya melalui sujud.

Secara kalender Hijriah, umat Islam memperingati momentum ini setiap tanggal 27 Rajab.

Karena sistem penanggalan Hijriah berbasis pada perputaran bulan, posisi tanggal tersebut dalam kalender Masehi selalu bergeser maju sekitar 10 hingga 11 hari setiap tahun.

Bagi masyarakat Indonesia, tanggal merah ini menjadi waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri guna meningkatkan kualitas ibadah.

Serta memperbaiki hubungan vertikal dengan Sang Khalik di tengah kesibukan duniawi.

Relevansi Nilai Disiplin dan Kesucian Hati

Pelajaran berharga dari Isra Miraj tetap relevan bagi manusia modern, terutama terkait aspek disiplin dan integritas.

Kewajiban salat lima waktu melatih setiap individu untuk mengatur waktu secara efektif antara urusan produktivitas dan spiritualitas.

Selain itu, proses penyucian hati Nabi dengan air Zamzam sebelum memulai perjalanan memberikan pesan moral yang kuat.

Kesuksesan besar hanya bisa tercapai apabila seseorang membersihkan diri dari sifat tercela seperti iri, dengki, dan kesombongan.

Kini, peringatan Isra Miraj di berbagai daerah di Indonesia juga berfungsi sebagai perekat sosial.

Melalui berbagai kegiatan keagamaan dan pengajian, masyarakat mempererat tali silaturahmi serta menjaga kerukunan antarwarga.

Nilai ketabahan Nabi saat menghadapi ujian berat di masa lalu menjadi motivasi bagi umat untuk tidak mudah putus asa.

Peristiwa ini terus menginspirasi jutaan orang agar tetap rendah hati dan menyadari bahwa di balik setiap kesulitan hidup, selalu ada kemuliaan yang menanti.

Pos terkait