TABLOIDELEMEN.com – Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) mengukuhkan posisinya sebagai “Rumah Kepanduan Hizbul Wathan” dalam perayaan Milad ke-107 Hizbul Wathan (HW) tingkat nasional.
Lebih dari 1.000 kader HW dari berbagai penjuru daerah memadati Lapangan Mas Mansoer Kampus 1 UMP guna mengikuti apel besar yang berlangsung khidmat pada Minggu 28 Desember 2025.
Ketua Kwartir Pusat Hizbul Wathan, Dr. Aman Suyadi, M.P., memimpin langsung jalannya apel tersebut sebagai inspektur upacara.
Dalam orasinya, ia menekankan bahwa usia 107 tahun merupakan bukti perjalanan panjang organisasi yang K.H. Ahmad Dahlan dirikan sejak 1918.
Ia mengajak seluruh peserta melihat momentum ini sebagai refleksi atas peran HW dalam membentuk karakter, disiplin, dan kepemimpinan berlandaskan nilai Islam.
“Hizbul Wathan hadir membentuk manusia berakhlak mulia dan cinta tanah air,” katanya.
“Sejarah mencatat organisasi ini melahirkan tokoh besar nasional seperti Jenderal Sudirman, Ki Bagus Hadikusumo, hingga Ir. Djuanda Kartawidjaja,” imbuh Aman di hadapan ribuan pandu.
Menurutnya, warisan ketokohan tersebut harus menjadi pelecut semangat bagi generasi muda Muhammadiyah saat ini.
Memasuki era disrupsi digital, perayaan kali ini mengusung tema “Bertumbuh, Utuh, dan Tangguh”.
Rumah Kepanduan
Aman menjelaskan bahwa tema tersebut merupakan tantangan bagi para pandu agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan jati diri organisasi.
“Para kader memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi solusi atas berbagai persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat modern,” tegasya.
Ia menegaskan, penetapan UMP sebagai tuan rumah sekaligus Rumah Kepanduan Hizbul Wathan mempertegas komitmen universitas dalam mendukung gerakan kepanduan secara berkelanjutan.
“Fasilitas kampus dan dukungan moril menjadi bagian integral dalam mencetak kader unggul,” katanya.
Aman menutup rangkaian apel dengan mengajak seluruh anggota memperkuat ukhuwah Islamiyah serta memperkokoh dakwah pengabdian demi kemajuan bangsa dan persyarikatan.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google News
















