TABLOIDELEMEN.com – Perbincangan mengenai pilihan minuman bergizi bagi keluarga kini melampaui dominasi susu hewani, seperti susu sapi atau kambing.
Fenomena ini muncul karena susu nabati mencuat sebagai alternatif populer.
Minuman berbasis tanaman ini menawarkan sejumlah keunggulan, mulai dari tekstur ringan dalam pencernaan hingga menjadi solusi ideal bagi individu dengan intoleransi laktosa.
Selain itu, susu nabati menyuguhkan variasi rasa dan profil nutrisi menarik, cocok memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga.
Agar publik memiliki pemahaman utuh dalam menentukan pilihan terbaik, artikel ini menyajikan panduan mendalam tentang apa itu susu nabati, menelisik perbedaannya dengan susu hewani, dan memberikan contoh produk unggulan.
Mengenal Lebih Dekat Esensi Susu Nabati
Susu nabati merupakan cairan hasil olahan bahan dasar tanaman, seperti kacang-kacangan, biji-bijian, atau serealia.
Pembuatannya melibatkan proses merendam bahan baku, menghancurkannya bersama air, lalu menyaring ampasnya sehingga menghasilkan cairan bertekstur dan visual serupa susu.
Popularitas susu nabati melonjak dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh beberapa faktor kunci:
Bebas Laktosa
Ini menjadikan susu nabati pilihan aman bagi mereka yang mengalami intoleransi laktosa, kondisi yang menyebabkan gangguan pencernaan setelah mengonsumsi produk susu hewani.
Profil Kalori dan Lemak
Sebagian besar varian susu nabati cenderung memiliki kandungan kalori dan lemak lebih rendah, meskipun ini sangat bergantung pada jenis bahan dasarnya dan formulasi produsen.
Ramah Gaya Hidup
Susu nabati berfungsi sebagai pengganti sempurna bagi individu yang menjalankan pola makan vegan atau membatasi konsumsi produk hewani.
Kaya Mikronutrien
Susu nabati berbasis kacang dan biji-bijian secara alami mengandung serat dan antioksidan tinggi.
Harvard T.H. Chan School of Public Health menyatakan bahwa susu nabati dapat menjadi alternatif bernutrisi asalkan konsumen memilih produk tanpa tambahan gula signifikan dan memastikan minuman tersebut telah diperkaya (difortifikasi) dengan kalsium serta vitamin D.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google News
















