TABLOIDELEMEN.com – Keluarga besar SMA Negeri 2 Purbalingga menginisiasi aksi sosial bertajuk Ramadan On The Road dengan menyalurkan ribuan paket bantuan pangan kepada masyarakat, Senin 9 Maret 2026.
Agenda tahunan ini menyasar warga serta panti asuhan yang berada di lingkungan sekitar sekolah pada Senin 9 Maret 2026.
Kepala SMA Negeri 2 Purbalingga, Nur Samsudin, menegaskan bahwa kegiatan ini membawa misi besar dalam menanamkan nilai karakter, terutama kepedulian terhadap sesama.
Menurutnya, tantangan zaman saat ini sering kali memicu peningkatan sifat individualisme dan ego yang menggerus nilai-nilai kemanusiaan.
Harapannya, melalui aksi berbagi sembako ini, siswa dapat mengasah empati, menurunkan ego pribadi, dan menumbuhkan jiwa sosial yang tinggi.
“Dengan demikian, siswa tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang peka dan responsif terhadap kondisi sosial di lingkungan mereka,” tuturnya
Kolaborasi Lintas Lini
Keberhasilan penyaluran bantuan ini merupakan buah kerja keras Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMA Negeri 2 Purbalingga.
Ketua OSIS SMA Negeri 2 Purbalingga, Omarhaen Sanditra Prakoso, menjelaskan bahwa seluruh elemen sekolah mulai dari siswa, guru, karyawan, hingga orang tua dan alumni turut memberikan kontribusi nyata.
Tim pelaksana berhasil mengumpulkan serta menyalurkan 1.075 paket sembako beserta dua paket sembako berukuran besar.
Setiap kemasan berisi bahan pokok berupa beras, telur, minyak goreng, dan mie instan yang menjadi kebutuhan utama masyarakat.
“Paket sembako yang dibagikan merupakan hasil donasi dari kolaborasi semua pihak,” terang Omarhaen saat menjelaskan mekanisme pengumpulan bantuan tersebut.
Senada dengan hal itu, Ketua Pelaksana Ramadan On The Road, Riona Nabilah Saputri, merinci bahwa sasaran utama distribusi menyisir para pengemudi ojek dan tukang becak.
Selain menjadi sarana berbagi, program ini berfungsi sebagai laboratorium sosial bagi siswa untuk mempraktikkan kerja sama tim dan pengelolaan waktu yang efektif.
“Melalui interaksi langsung di lapangan, para siswa mendapatkan wawasan baru mengenai realitas sosial yang ada di sekitar mereka,” katanya.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google News


















