TABLOIDELEMEN.com – Ratusan siswa kelas 9 SMP Negeri 2 Purbalingga menyelesaikan ujian performa mata pelajaran seni budaya.
Agenda ini merupakan program kerja Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) sekaligus bagian dari Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP).
Sebanyak empat kelas, yakni 9 E, F, G, dan H, memilih seni tari sebagai materi ujian.
Sementara kelas 9 A, B, C, dan D menempuh ujian prakarya.
Guru Seni Budaya, Lasmini Sri Wigati memberikan kebebasan bagi siswa untuk menentukan jenis tarian.
Mulai dari kreasi bebas hingga kreasi bernuansa tradisi. Namun, siswa justru memilih drama tari.
Meskipun Lasmini menilai drama tari cukup menantang, ia menghargai antusiasme para siswa.
“Kata anak-anak itu merupakan tantangan. Jadi mereka memilih drama tari,” tutur Lasmini, Sabtu 18 April 2026.
Tantangan Menumbuhkan Karakter melalui Seni
Kesepakatan tersebut melahirkan ragam tema cerita dalam ujian.
Seperti lakon Srikandi Sang Senopati, Ande-Ande Lumut, kisah Ciung Wanara dan legenda Roro Jonggrang.
Seluruh penampilan merupakan buah dari proses latihan panjang.
Kendala utama selama persiapan latihan muncul dari keterlibatan siswa laki-laki.
Namun, Lasmini melihat perubahan positif menjelang hari ujian.
Para siswa putra akhirnya mampu menyamai semangat rekan perempuan mereka.
Hasil unjuk bakat pun melampaui ekspektasi, karena siswa mampu bergerak secara mandiri.
“Memang untuk anak putra itu beda. Kalau yang putri semangat, tapi akhir-akhir menjelang ujian, mereka semua sudah pada semangat sekali. Hasilnya juga bagus,” tutur Lasmini.
Ia berharap kegiatan ini menanamkan nilai karakter, terutama apresiasi terhadap karya orang lain dan semangat melestarikan budaya bangsa.
Fokus utama mata pelajaran ini bukan mencetak penari profesional, melainkan membangun jiwa kerja sama.
“Paling utama adalah mereka harus benar-benar bisa menghargai karya seni orang lain. Mata pelajaran ini bukan untuk menjadi penari,” katanya
“Tetapi kami tanamkan jiwa bekerja sama dengan teman untuk menghasilkan seni tari yang luar biasa,” imbuh Lasmini.
Pristyana Marcha Anindyadhiani, siswa kelas 9 H, mengakui banyak tantangan dalam persiapan ujian.
Terutama saat membuat properti candi dan mengatur jadwal latihan teman laki-lakinya.
Meski demikian, ia merasa puas karena upaya kelompoknya membuahkan penampilan maksimal.
“Awalnya, teman-teman laki-laki susah menentukan waktu untuk latihan, tapi bisa teratasi dengan kesadaran mereka,” katanya.
“Bangga juga bisa menyuguhkan yang terbaik bersama teman-teman,” pungkas siswa yang bercita-cita menjadi psikolog ini.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google Berita

















