TABLOIDELEMEN.com – Angin musim dingin yang menusuk tulang hingga minus 15 derajat Celcius menyambut Fransiska Prihadi saat menginjakkan kaki di Vilnius, Lithuania, pada 20 Januari 2026.
Namun, langkah Fransiska ini bukan untuk sekadar menikmati butiran salju atau berlibur, tetapi menjadi representatif dari Minikino dan Indonesia yang mengemban misi besar memperkenalkan jiwa.
Serta generasi muda Indonesia melalui layar sinema pada ajang bergengsi Vilnius Short Film Festival.
Perjalanan panjang nan mahal ini merupakan buah dari konsistensi Minikino membangun jejaring internasional selama belasan tahun.
Lithuania menjadi titik strategis karena festival ini menempati posisi vital dalam ekosistem film Eropa, khususnya di wilayah Baltik yang menghubungkan jaringan sinema Utara dan Timur.
Bagi banyak pembuat film dunia, Vilnius adalah gerbang utama untuk menembus pasar film Eropa yang sangat kompetitif.
Hubungan erat ini bermula dari kesamaan visi antara Minikino Film Week di Bali dengan Vilnius Short Film Festival dalam memandang film pendek sebagai karya seni yang utuh.
Setelah September tahun lalu Minikino memberikan panggung bagi film-film Lithuania di Bali, kini giliran Indonesia menjadi pusat perhatian melalui program bertajuk “Indonesia, In Between”.
Lampu Sorot untuk Karya Lokal
Fransiska menyusun program ini secara khusus untuk mengikis stigma bahwa karya non-barat hanya menjual eksotisme.
Sebaliknya, ia menyajikan enam film pendek yang mampu menunjukkan kedalaman konteks aktual sekaligus menawarkan pengalaman sinematik yang menghibur.
Nama-nama seperti Monica Vanesa Tedja melalui “My Therapist Said, I Am Full of Sadness” dan Ariel Victor Arthanto dengan “I am a Flower” turut mewarnai daftar karya yang tayang.
Selain itu, penonton Lithuania akan menyaksikan “NGGAK!!!” karya Oktania Hamdani dan Winner Wijaya yang unik karena menggunakan format vertikal.
Ada pula “When The Blues Goes Marching In” karya Beny Kristia, “Hear the Ping Pong Sing” garapan Andrew Kose, serta “Samu the Terrible and His Sin” karya Dhiwangkara Seta.
Film-film ini membawa narasi tentang transformasi Indonesia dari sudut pandang pemuda, mulai dari isu personal hingga dinamika bangsa.
Selama festival berlangsung pada 21-27 Januari 2026, Fransiska tidak hanya duduk di bangku penonton. Ia aktif dalam berbagai panel diskusi industry.
Termasuk membahas peran festival film dalam lanskap sosiopolitik global.
Kehadirannya memastikan terjadinya dialog dua arah melalui sesi tanya jawab di Skalvija Cinema dan Pasaka Paupio Cinema.
“Dunia mungkin terasa sulit saat ini, tetapi kalau kita bisa belajar satu sama lain, semoga kita bisa membawa inspirasi. Setidaknya kita tidak merasa terlalu kesepian,” ungkap Fransiska mengenai harapannya terhadap pertukaran budaya ini.
Upaya ini terasa semakin mendesak di tengah situasi politik global yang terus memburuk.
Melalui film pendek, Indonesia mencoba membangun jembatan pemahaman yang lebih produktif dengan masyarakat internasional.
Usai menuntaskan misi di Lithuania, Fransiska akan melanjutkan perjalanan menuju Clermont-Ferrand, Prancis, untuk bergabung dengan delegasi Indonesia lainnya dalam konferensi film pendek tingkat dunia.
“Misi ini menegaskan bahwa suara sineas Indonesia kini semakin lantang terdengar di panggung global,” pungkasnya.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google News
















