Menyesap Beda Aroma Seduhan Kopi Gunting dan Kopi Purbalingga

Aroma tajam kopi menyeruak di sela hiruk-pikuk pasar Badhog Bancar Purbalingga saat pagi hari.
Aroma tajam kopi menyeruak di sela hiruk-pikuk pasar Badhog Bancar Purbalingga saat pagi hari.

TABLOIDELEMEN.com – Aroma tajam kopi menyeruak di sela hiruk-pikuk pasar Badhog Bancar Purbalingga saat pagi hari.

Seorang pria tampak sibuk menggunting kemasan plastik kecil, lalu menuangkan bubuk instan ke dalam gelas kaca.

Pemandangan “kopi gunting” ini menjadi potret lazim kaum urban yang mengejar kecepatan.

Kopi sachet menawarkan kepraktisan luar biasa bagi mereka yang hanya memiliki waktu lima menit sebelum berangkat kerja.

Namun, di balik kemudahan itu, lidah sering kali hanya mengecap rasa manis gula dan krimer yang mendominasi karakter asli biji kopi.

Bacaan Lainnya

Ritual Rasa di Kaki Gunung

Bergeser sedikit ke kedai-kedai kopi lokal di pusat Kabupaten Purbalingga, para penikmat kopi beralih ke ritual yang lebih personal.

Karena, Purbalingga menyimpan harta karun berupa biji Arabika dan Robusta di lereng Gunung Slamet.

Proses penyeduhan manual atau manual brew menjadi panggung utama di sini.

Air panas menyentuh bubuk kopi segar, mengeluarkan aroma tanah basah dan buah-buahan yang tidak mungkin hadir dalam kemasan pabrikan.

“Tentunya minum kopi bukan sekadar urusan kafein, melainkan tentang menghargai proses dari hulu hingga hilir,” kata pecinta Kopi Purbalingga, Saniatun, Kamis 22 Januari 2026.

Mana yang Lebih Nendang?

Pertarungan antara kopi sachet dan kopi murni lokal sebenarnya berujung pada preferensi personal.

Jika “nendang” berarti ledakan energi instan dengan rasa manis yang pekat, kopi gunting adalah pemenangnya.

Namun, bagi pecinta rasa yang mendalam, Robusta Purbalingga memberikan sensasi tubuh kopi (body) yang tebal dan pahit cokelat yang tegas.

Sementara itu, Arabika Slamet menawarkan kejutan asam segar yang kompleks.

Ketajaman rasa kopi murni ini sanggup bertahan lama di kerongkongan, memberikan kepuasan yang tidak bisa tergantikan oleh perisa buatan.

Memilih kopi adalah cara kita menentukan tempo hari.

Kopi sachet menemani langkah yang terburu, sedangkan seduhan Arabika atau Robusta mengajak kita berhenti sejenak untuk mensyukuri kekayaan alam lokal.

Pada akhirnya, setiap tegukan menceritakan kisah yang berbeda tentang gaya hidup masyarakatnya.

Pos terkait