Kafe Kopi Sikadu Mrebet, Jejak Pulang Sang Barista

Kafe Sikadu meneguhkan pondasi bukan sekadar tempat minum kopi, melainkan titik temu antara tradisi keluarga, alam, dan gairah anak muda
Kafe Sikadu meneguhkan pondasi bukan sekadar tempat minum kopi, melainkan titik temu antara tradisi keluarga, alam, dan gairah anak muda

TABLOIDELEMEN.com – Berpayung langit Desa Mrebet Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga, Kafe Sikadu meneguhkan pondasi bukan sekadar tempat minum kopi, melainkan titik temu antara tradisi keluarga, alam, dan gairah anak muda.

Nailan Syaifi Akmal merajut mimpi melalui sebuah kafe kopi yang ia beri nama Sikadu. Obrolan hangat menemani kepulan uap kopi panas di Kafe Sikadu

Nama tersebut bukan sekadar label, melainkan penghormatan bagi sungai yang melingkari tanah tempat biji-biji kopi miliknya tumbuh sejak tahun 2014.

Perjalanan Nailan bermula dari sebuah keisengan yang kemudian berubah menjadi keseriusan saat Festival Kopi Merdeka di Owabong tahun 2017 silam.

Kala itu, sang ayah menyarankan nama “Sikadu” sebagai identitas produk green bean mereka.

Bacaan Lainnya
Promo Cleo 1 Liter

“Nama sungainya Kali Kadu, tapi ayah minta tambah awalan ‘Si’ agar lebih akrab di telinga,” kenang Nailan.

Jejak Pulang Sang Barista

Sebelum menetap di desa, Nailan sempat mengadu peruntungan di hiruk-pikuk kota selama empat tahun.

Namun, panggilan alam dan aroma tanah kelahiran membawanya pulang.

Ia memilih menutup kedai lamanya dan membangun ulang mimpi di perbatasan Desa Mrebet dan Desa Bojong, sebuah lokasi yang unik dan mudah tamu ingat karena berada di pinggiran jalan raya

Setiap cangkir yang keluar dari kafe miliknya bercerita tentang kualitas.

Nailan menyajikan spektrum rasa yang luas, mulai dari manual brew Arabika hingga espresso base yang kental.

Ia sangat bangga mengusung kopi lokal Gunung Malang, meski mengakui tantangan dalam mendapatkan pasokan yang konsisten.

Baginya, rasa lokal tidak kalah bersaing dengan biji kopi dari jenama besar juga ia sediakan bagi penikmat specialty coffee.

Hangat Dalam Kesederhanaan Desa

Sikadu merangkul semua kalangan, mulai dari anak sekolah hingga orang dewasa.

Bagi pengunjung yang menghindari kafein, Nailan meracik berbagai minuman non-kopi berbasis es krim, cokelat, hingga mocktail lemon yang menyegarkan.

Kudapan sederhana seperti kentang goreng dan nugget menjadi teman setia obrolan panjang di sudut kedai yang mampu menampung hingga lima belas orang ini.

Nuansa kedai ini terasa semakin hidup saat teman-teman Nailan datang membawa alat musik untuk sesi jamming spontan.

Meski terbuka untuk musik akustik, ia memiliki aturan yang cukup tegas: tidak ada musik dangdut.

Keputusan ini ia ambil bukan karena benci, melainkan demi menjaga ketenangan lingkungan sekitar yang berdekatan dengan pemukiman warga.

Ia ingin Sikadu tetap menjadi ruang berbagi yang santun.

Melalui tagar #CeritaSikadu di media sosial, Nailan terus membagikan potongan-potongan kehidupan dari tepi sungai.

Kedai ini buka setiap hari pukul 11.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB.

Namun untuk hari Minggu ia memilih tutup lebih awal pada pukul 17.00 WIB demi memberikan waktu istirahat bagi raga.

 

 

Pos terkait