TABLOIDELEMEN.com – Saat riuh galeri seni mayoritas pelukis mengandalkan tangan kanan untuk melukis, Edi Slamet Djaya Putra (59) justru menemukan keajaiban dalam goresan tangan kirinya.
Sosoknya menonjol, bukan sekadar karena keunikan cara melukisnya, namun juga karena ‘jiwa’ yang ia tanamkan pada setiap karyanya.
Bagi Edi, melukis adalah tentang perasaan dan komunikasi. Ia menampik anggapan bahwa berkarya selalu mulus tanpa kendala
“Awalnya hanya hobi, lama-kelamaan jadi kecanduan dan hasilnya bagus. Mungkin dari situlah saya putuskan menekuni dunia lukis,” ungkap Edi merendah.
Bulu Ayam dan Mood sebagai Kuas

Pria yang berdomisili di Jalan Jenderal Sudriman Kelurahan Purbalingga Kidul selalu perlu memperhatikan perasaan atau mood saat menuangkan ide ke dalam kanvas.
Menurutnya, ketika seseorang melihat sebuah lukisan, mereka harus melihat bukan sekadar gambar.
Tetapi “makna yang tersirat di setiap goresannya dan pelajarilah pesan-pesan makna yang tertuang dalam gambar itu,” yang menjadi jembatan antara seniman dan apresiator.
Menariknya, Edi sempat mengalami fase unik dalam proses melukisnya, yaitu menggunakan bulu ayam.
Ia bercerita, sekitar tahun 2005 saat pameran pertamanya, ia mengeluarkan karya dengan teknik tersebut setelah sebelumnya menggunakan cat minyak.
Tekniknya, kuas untuk mengaplikasikan cat, lalu bulu ayam asli akan ia tempelkan langsung untuk menciptakan tekstur dan warna alaminya seperti cokelat atau warna asli bulu lainnya.
“Waktu pengerjaan satu lukisan bervariasi, tergantung tingkat kesulitan dan mood,”ada yang paling cepat itu 5 hari, kemarin 1 sampai 1 minggu,” katanya.
Sejak aktif melukis di tahun 2005 hingga kini, Edi terus berkarya dengan total lukisan yang tak terhitung jumlahnya.
Nilai Jual dan Kebanggaan Jiwa
Meski seni lukis baginya adalah kesenangan dan bukan untuk nafkah utama sehari-hari, Edi sering menerima pesanan.
Lukisan-lukisannya ada yang ia pajang sebagai contoh hingga menjadi koleksinya sendiri.
Namun, ada satu kisah harga jual yang menyentuh hatinya, lukisan Bunda Teresa.
“Ada 1 lukisan yang paling tinggi itu Bunda Teresa. Kita Sumbangkan untuk Gereja Katedral yang di Kosambi itu lewat teman,” katanya.
Lukisan itu mau dibayar hingga Rp 15 Juta, namun Edi memilih untuk menyumbangkannya. Hal ini menunjukkan bahwa nilai emosional dan spiritual jauh melampaui harga materi.
“Saya bangga. Kepuasan batin melampaui nilai materi,” katanya

Menulis itu tidak selalu dengan paragraf-paragraf yang panjang. Menulislah tentang perasaan kita dan tentang apa yang ada dipikiran kita. Tanpa tersadar, kita sesungguhnya telah menulis.
Baca update artikel lainnya di Google News


















