TABLOIDELEMEN.com – Perpustakaan Bergerak Limbah Pustaka Desa Muntang, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga, sukses menembus babak enam besar Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan Terbaik Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026.
Prestasi tersebut mengukuhkan peran pusat literasi berbasis lingkungan ini.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Purbalingga, Endi Astono mengapresiasi prestasi tersebut.
Ia menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Purbalingga dalam mendorong perpustakaan desa menjadi pusat pemberdayaan masyarakat.
“ini tempat masyarakat belajar bahwa barang yang tadinya tidak memiliki nilai, ternyata bisa menjadi sesuatu yang berharga,” katanya.
“Limbah Pustaka bisa menjadi contoh agar perpustakaan desa semakin dicintai masyarakat,” imbuh Endi.
Selaras dengan hal itu, pengelola Limbah Pustaka, Roro Hendarti, menganggap pencapaian tersebut sebagai pemacu semangat untuk terus menghadirkan layanan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Bagi Roro, perpustakaan desa kini berfungsi sebagai ruang belajar serta wadah pengembangan keterampilan warga.
“Alhamdulillah kita bisa maju ke tingkat Provinsi Jawa Tengah dan lolos enam besar,” ujarnya saat verifikasi lapangan penilaian lomba tingkat provinsi, Rabu 13 Mei 2026
Enam Besar Lomba Perpustakaan Jawa Tengah
Roro menjelaskan bahwa keunikan Limbah Pustaka terletak pada perpaduan antara perpustakaan bergerak dengan wisata edukasi pengelolaan sampah.
Lewat program ini, masyarakat serta pelajar aktif belajar memproduksi eco enzyme, merakit kerajinan daur ulang, hingga mengelola sampah bernilai ekonomi.
Selain fokus pada lingkungan, Limbah Pustaka menggandeng Telkom University Purwokerto guna menciptakan sejumlah aplikasi edukasi ramah anak melalui telepon genggam.
Aplikasi tersebut memuat materi pencegahan diabetes pada anak, pencegahan kekerasan seksual, edukasi stunting melalui program Ibu Cerdas, serta permainan edukatif.
“Keunggulan kami ada pada perpustakaan bergerak yang berpadukan dengan edukasi pengelolaan sampah. Serta pengembangan aplikasi edukasi ramah anak yang jarang dimiliki perpustakaan lain,” katanya.
Sejak berdiri pada 2007, tempat ini konsisten memfasilitasi warga lewat layanan baca buku gratis, peminjaman buku gratis, akses internet gratis, hingga pelatihan khusus.
Roro berharap inovasi ini mampu menginspirasi pengelola perpustakaan desa lain agar tidak menyerah pada keterbatasan.
“Keterbatasan sumber daya bukan menjadi masalah, yang penting mau bekerja sama dan terus belajar,” ungkapnya.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google Berita

















