TABLOIDELEMEN.com – Langkah kaki Edward Tirtanata bermula dari sebuah sudut sempit di Menara Standard Chartered Jakarta pada tahun 2017.
Tanpa kursi bagi pelanggan, pria kelahiran Bandung tahun 1988 ini nekat merintis Kopi Kenangan bersama rekan lamanya, James Pranoto.
Bermodalkan Rp150 juta yang mayoritas tersedot untuk mesin kopi berkualitas, Edward memperkenalkan konsep grab and go.
Strategi cerdas ini memangkas biaya sewa lahan besar sekaligus menjawab kebutuhan gaya hidup urban yang serba cepat.
Kesuksesan hari pertama yang menembus angka 700 gelas langsung membuktikan ketajaman insting bisnisnya.
Padahal, jalan menuju titik ini penuh dengan kerikil tajam.
Sebelum mengguncang industri kopi, Edward sempat mencicipi pahitnya kegagalan saat mengelola bisnis batu bara bersama sang ayah.
Ia juga sempat mendirikan toko teh Lewis and Carroll pada 2015, namun pertumbuhan bisnis tersebut tidak sesuai harapan.
Pengalaman merugi pada sektor sumber daya alam justru membentuk prinsip baru: ia enggan bermain pada pasar yang harganya ditentukan oleh pihak luar.
Darah pebisnis memang sudah mengalir kuat sejak ia menempuh studi di Northeastern University, Boston.
Kala itu, Edward kecil-kecilan menjual kartu Pokemon dan bot gaming kepada teman-temannya.
Pengalaman masa kuliah tersebut mengasah kemampuan negosiasi dan pemahaman pasarnya.
Kini, setelah delapan tahun berdiri, Kopi Kenangan bukan lagi sekadar gerai kecil di Kuningan, melainkan raksasa yang menaungi lebih dari 5.000 karyawan.
Ekspansi Kopi Kenangan kini telah menjangkau Singapura, Kuala Lumpur, Manila, hingga Sydney dan Melbourne.
Di dalam negeri, lebih dari 800 gerai tersebar di 45 kota, dengan catatan penjualan fantastis mencapai 30 juta gelas per tahun.
Melalui Kenangan Brands, Edward juga melahirkan Cerita Roti hingga Chigo untuk memperkuat portofolionya.
Ambisi besarnya tidak berhenti di Asia Tenggara; ia kini tengah menatap pasar Amerika Serikat untuk membuktikan bahwa cita rasa lokal mampu merajai selera dunia.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google News
















