TABLOIDELEMEN.com – Kampung Inggris Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) meluncurkan program “English That Sells”.
Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas komunikasi pelaku UMKM dan sektor pariwisata di kawasan Kota Lama Banyumas, Senin 22 Desember 2025.
Guna menciptakan suasana pembelajaran yang nyata, panitia melibatkan sejumlah mahasiswa internasional UMP yang berasal dari Sudan, Filipina, Pakistan, Palestina, hingga Yaman.
Kehadiran mahasiswa asing ini memberikan kesempatan bagi para pelaku UMKM untuk menguji kemampuan mereka dalam menyapa, menawarkan produk.
Serta melakukan percakapan sederhana dalam situasi yang santai namun terarah.
Inisiatif ini merespons tren peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara yang menuntut kesiapan warga lokal dalam berinteraksi menggunakan bahasa internasional.
Akademisi Kampung Inggris UMP, Prof. Dr. Suwartono, M.Hum., menegaskan bahwa metode pelatihan ini mengutamakan praktik lapangan daripada pendalaman teori yang kaku.
Ia memotivasi para peserta agar tidak menjadikan faktor usia sebagai penghalang dalam menguasai keterampilan baru.
“Keberanian memulai percakapan merupakan kunci utama dalam melayani tamu asing yang berkunjung ke pusat sejarah tersebut,” katanya.
Menurutnya, Bahasa Inggris merupakan sebuah keterampilan yang memerlukan praktik langsung.
“Bapak dan Ibu tidak perlu berbicara bahasa Inggris selama 24 jam, namun harus berani saat menghadapi wisatawan,” tutur Suwartono di sela kegiatan.
Ia meyakini bahwa pengalaman berhasil berkomunikasi akan menumbuhkan rasa percaya diri dan motivasi belajar yang lebih kuat bagi masyarakat lokal.
Menanggapi kolaborasi tersebut, perwakilan tuan rumah, Iswanto, memberikan apresiasi tinggi terhadap kepedulian UMP dalam memajukan pariwisata daerah.
Ia melihat penguasaan bahasa Inggris sebagai pintu gerbang utama bagi para pelaku usaha untuk naik kelas dan mengembangkan jaringan bisnis mereka.
“Kami semua berharap program edukatif ini terus berlanjut secara konsisten sehingga mampu memperkuat citra Kota Lama Banyumas sebagai destinasi wisata unggulan yang ramah bagi wisatawan global,” katanya.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google News
















