TABLOIDELEMEN.com – Petani kembali semangat budidayakan Kopi Purbalingga karena kenaikan harga Arabica dan Robusta signifikan.
Petani kini menunjukkan gairah besar melirik budidaya tanaman kopi.
Bahkan, kalangan anak muda milenial juga mulai terjun menjadi petani sekaligus menekuni bisnis Kopi Purbalingga.
Kenaikan harga kopi jenis Arabica dan Robusta yang signifikan di pasaran memicu semangat baru ini.
Rusdi, petani dari Desa Gondang, Kecamatan Karangreja, anggota Komunitas Petani Kopi Purbalingga (Kompak), menyampaikan perbaikan harga kopi.
Saat ini petani merasakan harga kopi terus membaik selama dua tahun terakhir.
Harga per kilogram kopi petik merah berkisar antara Rp 75 ribu hingga Rp 80 ribu.
Sementara itu, harga kopi petik Jotos (hijau keras) terjual Rp 55 ribu hingga Rp 65 Ribu.
Permintaan Bibit dan Dukungan Pemerintah
Dulu, petani sempat kecewa karena harga kopi hanya berkisar Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu.
Beberapa petani bahkan mengganti tanaman kopi mereka dengan kapulaga.
Rusdi berharap harga kopi terus membaik dan petani kini mulai menanam kembali tanaman kopi.
Senada dengan Rusdi, petani lain, Kusnoto dari Desa Jingkang, Kecamatan Karangjambu, juga merasakan semangat ini.
“Petani kopi sangat bersemangat. Anak-anak muda beralih menjadi petani kopi. Kami siap menanam bibit kopi seberapapun jumlahnya, oleh karena itu kami mohon Pemerintah melalui Dinas Pertanian mendukung para petani kopi yang sedang bersemangat ini,” katanya.
Tikno, petani dari Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, produsen kopi khas Gunung Slamet bermerek ‘Mount Slamet Coffe’, menegaskan hal yang sama.
Musim panen lalu, kopi robusta mencapai harga Rp 75 ribu hingga Rp 80 ribu, bahkan kopi Arabika greenbean menyentuh Rp 150 ribu per kilonya.
Konsep Hilirisasi untuk Nilai Jual Lebih Tinggi
Pegiat Kopi Purbalingga, Hapsoro Paripurno tengah menyiapkan konsep hilirisasi yang disebut ‘Mempertautkan Kopi, Kita, dan Bumi’.
Konsep inisiatif kolaboratif ini menjadikan kopi sebagai penghubung antara manusia dan bumi, menghadirkan narasi tentang keberlanjutan melalui tur, pameran, riset, dan pengalaman konsumsi kopi reflektif.
Rio, panggilan akrab Hapsoro, menjelaskan misi konsep ini. Misinya meningkatkan kesadaran kolektif tentang pentingnya kopi berkelanjutan.
Serta, mendorong praktik ramah lingkungan, dan menghadirkan ruang kolaborasi lintas sektor.
Ia berharap konsep ini menaikkan nilai jual Kopi Purbalingga antara 20 hingga 30 persen.
Rio juga terus membangun jejaring dengan pengusaha, akademisi, dan Direktorat Hilirisasi Perkebunan Kementerian Pertanian.
Data dan Upaya Kolaborasi Daerah
Penasehat Kompak, Indaru, mendorong petani kopi berkolaborasi dengan Pemdes yang mendapat hak pengelolaan hutan.
Lahan hutan dapat digunakan untuk tanaman kopi. Dengan demikian, upaya ini meningkatkan kesejahteraan petani dan mendukung konservasi.
Kepala Dinpertan Purbalingga, Prayitno, menyampaikan luas areal tanaman kopi Robusta 1.682 hektar, dengan produksi rata-rata 188,3 kilogram per hektar.
Sementara itu, kopi Arabika tercatat seluas 98 hektar, dengan produksi rata-rata 130,5 kilogram per hektar.
Prayitno menyatakan, Pemkab Purbalingga siap berkolaborasi.
“Kami juga memiliki lahan kopi di Desa Cendana seluas 1,9 hektar sebagai sarana demplot dan peningkatan kapasitas petani Kopi Purbalingga,” katanya.

Awali dengan kepedulian, niscaya akan menjadi gagasan dalam menulis


















