TABLOIDELEMEN.com- Sejarah kemerdekaan Indonesia mencatat kontribusi besar dari dua figur penting bermarga Douwes Dekker.
Kedua tokoh tersebut memiliki peran krusial dalam melawan kolonialisme, baik melalui kritik sastra maupun pergerakan politik langsung di tanah air.
Kritik Sastra Tajam Multatuli
Tokoh pertama adalah Eduard Douwes Dekker (1820–1887) yang memopulerkan nama pena Multatuli.
Melalui karya monumental berupa novel berjudul Max Havelaar pada tahun 1860, ia melancarkan protes keras terhadap pemerintah kolonial.
Buku tersebut memuat kritik mendalam atas perlakuan buruk serta eksploitasi para penjajah terhadap masyarakat pribumi di Hindia Belanda.
Tulisan tajam Multatuli sukses membuka mata dunia internasional mengenai kekejaman sistem kolonial sekaligus memantik kesadaran humanisme di Eropa.
Kiprah Politik Tiga Serangkai
Sementara itu, tokoh kedua adalah Ernest Douwes Dekker (1879–1950) yang juga dikenal dengan nama Danudirja Setiabudi.
Ia berjuang secara radikal di jalur politik sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia.
Ernest menginisiasi gerakan nasionalis bersama dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat dalam kelompok yang dikenal sebagai Tiga Serangkai.
Melalui jalur pergerakan tersebut, ia secara konsisten menuntut kemerdekaan penuh bagi bangsa Indonesia dan meruntuhkan dominasi pemerintahan kolonial.
Kiprah nyata kedua tokoh legendaris ini mempertegas bahwa perjuangan melawan penjajahan bergulir melalui berbagai strategi.

Awali dengan kepedulian, niscaya akan menjadi gagasan dalam menulis.
Baca update artikel lainnya di Google Berita


















