Belajar Sejarah Tak Harus di Buku: Pelajar SMA Negeri 2 Purbalingga Menyusuri Jejak Kolonial

Sekitar 70 siswa kelas X dan XI SMA Negeri 2 Purbalingga mengikuti Safari Cagar Budaya menelusuri sejumlah lokasi yang telah menjadi Cagar Budaya, bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga, Selasa 4 November 2025.
Sekitar 70 siswa kelas X dan XI SMA Negeri 2 Purbalingga mengikuti Safari Cagar Budaya menelusuri sejumlah lokasi yang telah menjadi Cagar Budaya, bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga, Selasa 4 November 2025.

Rumah Asisten Residen: Simbol Awal Penjajahan

Perhentian terakhir adalah eks Rumah dan Kantor Asisten Residen, kini menjadi Markas Kodim 0702/Purbalingga.

Bangunan ini menjadi saksi mulainya era kolonialisme di wilayah Banyumas Raya setelah berakhirnya Perang Diponegoro tahun 1830.

Sejak 1830, struktur pemerintahan Eropa mulai terbentuk. Jabatan Residen dan Asisten Residen muncul, menandai bahwa wilayah ini resmi berada di bawah kendali Hindia Belanda.

Asisten Residen kala itu bukan sekadar pejabat administratif.

Ia berwenang mengawasi bupati, mengelola kas pajak, dan memastikan kebijakan pusat di daerah.

Bacaan Lainnya
Promo Cleo 1 Liter

“Bupati tetap mempertahankan, namun lebih sebagai simbol kepercayaan rakyat pribumi agar pemerintah kolonial mudah mengendalikan masyarakat,” kata Ganda.

Mengenal Arsitektur Indis

Menutup kegiatan, Taufik Sudharmono mengajak para siswa memperhatikan detail arsitektur dua bangunan kolonial.

Ia menjelaskan bahwa Landraad dan rumah Asisten Residen sama-sama bergaya Indische Empire Style—perpaduan antara gaya Eropa dan penyesuaian dengan iklim tropis Nusantara.

“Bangunan kolonial di sini tidak lagi seperti di negeri asalnya. Ada modifikasi lokal yang melahirkan budaya baru: kebudayaan Indis,” tutur Taufik.

“Contohnya, daun pintu jalusi atau krepyak yang memungkinkan sirkulasi udara lebih banyak. Di Eropa, model seperti ini tidak terkenal,”

Menjelang siang, rombongan pelajar itu kembali ke sekolah dengan catatan dan kesan baru.

Mereka tak hanya membawa foto dan tugas laporan, tetapi juga pemahaman bahwa sejarah bisa terisentuh, terlihat, bahkan terasakan dari bangunan-bangunan tua di dekat sekolah mereka.

 

 

Pos terkait