Badan Geologi: Radius Bahaya Gunung Slamet Capai Dua Kilometer, Ancaman Erupsi Freatik Mengintai

Foto citra visual perubahan kondisi kawah Gunung Slamet dari 13 September 2024 hingga 2 April 2026. Sumber Foto: Pos PGA Slamet
Foto citra visual perubahan kondisi kawah Gunung Slamet dari 13 September 2024 hingga 2 April 2026. Sumber Foto: Pos PGA Slamet

TABLOIDELEMEN.com – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) mengeluarkan peringatan keras bagi masyarakat agar menjauhi radius dua kilometer dari kawah puncak Gunung Slamet.

Langkah proteksi ini menyusul hasil analisis data pemantauan yang menunjukkan adanya peningkatan tekanan signifikan di bawah tubuh gunung api tertinggi di Jawa Tengah tersebut.

Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa instabilitas di bawah permukaan telah memicu kemunculan rentetan gempa dangkal.

Kondisi ini secara otomatis memperbesar peluang terjadinya erupsi dalam waktu dekat.

Hasil pengamatan dan analisis data-data pemantauan menunjukkan adanya peningkatan tekanan di bawah tubuh Gunungapi Slamet

Bacaan Lainnya
Kartini 21 April 2026

“Hal ini memicu munculnya gempa-gempa dangkal.Meningkatkan kemungkinan terjadinya erupsi,” ungkap Lana pada Sabtu 4 April 2026

Potensi ancaman saat ini meliputi erupsi freatik yang melontarkan abu dan hujan lumpur, hingga erupsi magmatik berupa pijar material panas.

Lana menegaskan bahwa sebaran gas vulkanik konsentrasi tinggi juga menjadi ancaman serius bagi siapa pun yang nekat mendekati puncak.

“Ini akan melanda di daerah sekitar puncak di dalam radius 2 km atau serta hembusan gas vulkanik konsentrasi tinggi yang sebarannya terbatas di sekitar kawah/puncak,” tambahnya.

Tim ahli menangkap perubahan visual mencolok berupa kolom asap putih setinggi 300 meter yang keluar secara kontinu dari bibir kawah.

Fenomena degassing ini berbanding lurus dengan lonjakan suhu kawah yang sangat ekstrem.

Berdasarkan citra termal, suhu maksimum kawah meroket dari 247,4 derajat Celsius pada akhir 2024 menjadi 411,2 derajat Celsius per 2 April 2026.

Lana mencermati bahwa pola anomali panas kini tidak lagi terpusat, melainkan melebar melingkari dinding kawah.

Perluasan area panas ini mengindikasikan adanya sistem rekahan baru yang memfasilitasi keluarnya gas magmatik dalam intensitas tinggi.

Meskipun aktivitas kegempaan terus menanjak, otoritas masih menetapkan status Gunung Slamet pada Level II (Waspada).

Badan Geologi berkomitmen untuk terus mengevaluasi status tersebut secara berkala sesuai perkembangan visual maupun seismik di lapangan.

 

 

Kartini 21 April 2026