Aksi Kemanusiaan Pramuka Penegak SMK Maarif NU Karangreja Bersihkan Material Banjir Sangkanayu

Anggota Pramuka Ambalan Umar bin Khattab dan Siti Fatimah pangkalan SMK Maarif NU Karangreja mengambil peran nyata dalam penanganan pascabencana di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet.
Anggota Pramuka Ambalan Umar bin Khattab dan Siti Fatimah pangkalan SMK Maarif NU Karangreja mengambil peran nyata dalam penanganan pascabencana di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet.

TABLOIDELEMEN.com – Puluhan anggota Pramuka Ambalan Umar bin Khattab dan Siti Fatimah pangkalan SMK Maarif NU Karangreja mengambil peran nyata dalam penanganan pascabencana di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet.

Para relawan muda ini terjun langsung ke lokasi terdampak guna menyingkirkan sisa-sisa lumpur serta material bebatuan yang terbawa banjir bandang, Selasa 27 Januari 2026.

Anggota Majelis Pembimbing Gugusdepan (Mabigus), Kak Agus Tri Pranoto, menjelaskan bahwa sekolah mengerahkan 32 anggota Pramuka Penegak untuk mempercepat proses pemulihan lingkungan.

Pihaknya membagi personel ke dalam dua kelompok kerja guna menyisir titik-titik krusial yang masih tertutup material sisa bencana.

“Kami membagi dua tim, masing-masing terdiri atas 20 anggota dan 12 anggota pada dua lokasi RT serta RW yang berbeda,” tutur Agus Tri Pranoto, saat memberikan keterangan di Posko Kesehatan.

Bacaan Lainnya

Bersihkan Material Banjir Sangkanayu

Agus Tri Pranoto, yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Kesiswaan SMK Maarif NU Karangreja, menegaskan bahwa keterlibatan para anggota Pramuka ini merupakan perwujudan konkret dari pengamalan Satya Darma Pramuka.

Menurutnya, terjun ke medan bencana memberikan pelajaran berharga mengenai nilai kemanusiaan yang tidak mereka dapatkan di dalam kelas.

“Kegiatan ini menjadi pembelajaran rasa kepedulian anggota Pramuka terhadap penderitaan sesama,” tambahnya.

Sejalan dengan aksi tersebut, Ketua Gerakan Pramuka Kwarcab Purbalingga, Kak Tri Gunawan Setiawan, terus memotivasi seluruh anggota agar konsisten berbagi tanpa henti.

Ia menekankan bahwa kontribusi Pramuka tidak selalu berupa materi, namun juga tenaga, pikiran, serta perkataan yang mampu menguatkan mental para korban.

“Kami senantiasa mengajak anggota Pramuka dan masyarakat kembali meresapi Dasadarma kedua, yaitu cinta alam dan kasih sayang sesama manusia,” ungkap Tri Gunawan.

Lebih lanjut, ia mendorong Pramuka agar menjadi pelopor dalam gerakan mencintai bumi sebagai langkah preventif jangka panjang.

“Kesadaran untuk menyelaraskan ide, kata, dan perbuatan dengan kelestarian alam menjadi solusi utama agar musibah serupa tidak terulang pada masa mendatang,” tegasnya.

Bencana ini bermula saat hujan berintensitas tinggi beserta angin ribut menerjang wilayah lereng Gunung Slamet pada Jumat 23 Januari 2026 malam hingga Sabtu 24Januari 2026 dini hari.

Kondisi cuaca ekstrem tersebut memicu tanah longsor dan banjir bandang yang membawa material hutan berupa batu, pohon, serta lumpur hingga menerjang pemukiman warga di Dusun 3, Desa Sangkanayu.

Data lapangan mencatat dampak signifikan pada wilayah RT 13 dan RT 14 RW 05.

Sebanyak 117 jiwa terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka dan mengungsi setelah aliran air merusak 14 unit rumah, dengan enam unit mengalami kerusakan berat.

Selain menghancurkan hunian, terjangan air memutus dua jembatan penghubung dusun serta menghanyutkan puluhan hewan ternak dan kendaraan milik warga setempat.

Pos terkait