Harga Cabe Rawit dan Daging di Pasar Purbalingga Melonjak Tajam Awal Ramadan 2026

Pedagang Daging di Pasar Purbalingga
Pedagang Daging di Pasar Purbalingga

TABLOIDELEMEN.com – Memasuki awal Ramadan 2026, lonjakan harga sejumlah komoditas pangan di Kabupaten Purbalingga kian meresahkan warga.

Kenaikan paling mencolok menimpa cabai rawit merah yang kini menyentuh angka Rp100 ribu hingga Rp105 ribu per kilogram.

Fenomena ini memicu Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Dindagkop UKM) Kabupaten Purbalingga untuk meningkatkan intensitas pemantauan pada sejumlah pasar tradisional.

Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa Pasar Segamas mencatat harga tertinggi untuk komoditas cabai tersebut.

Kepala Bidang Perdagangan, Wasis Pambudi, memberikan penjelasan mengenai fluktuasi yang terjadi di berbagai titik pasar.

Bacaan Lainnya
Kartini 21 April 2026

“Kenaikan harga komoditas cabai di Kabupaten Purbalingga bervariasi mulai dari 14,3 persen hingga 52 persen,” kata Wasis Pambudi, Minggu 22 Februari 2026

Data resmi pemerintah daerah memaparkan bahwa cabai merah biasa atau teropong mengalami lonjakan Rp13 ribu per kilogram.

Sementara itu, harga cabai merah keriting di Pasar Bukateja meroket dari Rp40 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram, yang berarti terdapat kenaikan sebesar 59 persen.

Tren serupa juga menerjang bawang merah yang saat ini merangkak naik ke kisaran Rp44 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram.

Daging Sapi Membebani Konsumen

Tekanan ekonomi tidak hanya bersumber dari bumbu dapur, namun juga merambah sektor protein hewani.

Harga daging sapi mulai memberatkan kantong konsumen, terutama di Pasar Panican yang kini mematok harga Rp150 ribu per kilogram.

Seorang pedagang daging, Erna Eka Setianingrum, mengonfirmasi bahwa pergerakan harga ini telah memanas sejak masa prapuasa.

“Kenaikan ini sudah berlangsung sejak sebelum memasuki bulan Ramadan hingga sekarang belum turun,” ungkap Erna.

Meski harga melambung tinggi, volume permintaan masyarakat terhadap daging sapi masih terpantau stabil.

Erna mengaku sulit memprediksi tren harga menjelang Lebaran nanti karena keputusan akhir mengenai harga sangat bergantung pada pasokan dari distributor utama.

Kondisi ini memaksa para ibu rumah tangga memutar otak guna menjaga ketersediaan gizi keluarga selama bulan suci.

Ayu Kinanti Larasati, salah satu pembeli, merasa harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menyusun menu berbuka puasa.

Ia mengamati bahwa tren kenaikan harga pangan seolah menjadi siklus tahunan yang sulit terhindarkan.

“Setiap bulan puasa pasti naik ya, dari yang di bulan puasa dulu Rp120 ribu sekarang tembus Rp150 ribu,” ujar Ayu.

Ayu menaruh harapan besar agar pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret guna menstabilkan harga kebutuhan pokok.

“Kami menginginkan perhatian pemerintah agar gejolak harga pangan tidak semakin membebani ekonomi rumah tangga,” katanya.

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Kartini 21 April 2026