UMP Gandeng Kelompok Disabilitas Wujudkan Banyumas Bebas DBD 2030

Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) memperkuat langkah strategis dalam menekan angka kasus Demam Berdarah Dengue melalui Pelatihan Jumantik Inklusif pada 20–21 Desember 2025.
Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) memperkuat langkah strategis dalam menekan angka kasus Demam Berdarah Dengue melalui Pelatihan Jumantik Inklusif pada 20–21 Desember 2025.

TABLOIDELEMEN.com – Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) memperkuat langkah strategis dalam menekan angka kasus Demam Berdarah Dengue melalui Pelatihan Jumantik Inklusif pada 20–21 Desember 2025.

Bertempat di Ruang Lecture Room F1.04 Gedung F UMP, institusi pendidikan ini mengintegrasikan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) untuk menciptakan sistem pengendalian nyamuk yang setara dan menyeluruh.

Program ini menarik perhatian global karena selaras dengan fokus pendanaan lembaga internasional Royal Entomological Society (RES).

Melalui pendekatan inklusif, UMP melibatkan beragam unsur masyarakat mulai dari pemuda, kader kesehatan, pengurus PKK, hingga penyandang disabilitas.

Sinergi lintas elemen ini bertujuan memastikan seluruh lapisan sosial memiliki peran aktif tanpa diskriminasi dalam menyongsong target Banyumas Bebas DBD 2030.

Bacaan Lainnya

Perwakilan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Cabang Banyumas, Dwi Kurniasih, memuji inisiatif UMP yang membuka akses pengetahuan bagi kelompok disabilitas.

Menurutnya, panitia berhasil menghadirkan lingkungan pelatihan yang ramah disabilitas.

Baik dari segi akses fisik ruangan maupun metode penyampaian materi yang mudah mereka serap.

“Kami merasa aman dan nyaman selama mengikuti kegiatan yang membuka wawasan baru terkait isu kesehatan masyarakat tersebut,” katanya.

Senada dengan hal itu, Bangun Adiarso selaku perwakilan Karang Taruna Desa Karangklesem menilai materi pelatihan sangat komprehensif dan aplikatif bagi kalangan muda.

Ia menekankan bahwa keberhasilan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) tidak boleh hanya mengandalkan kader kesehatan semata.

“Melainkan butuh kolaborasi nyata dari komunitas pemuda dan kelompok rentan,” katanya.

Ketua Program, Juli R. Wuliandari, Ph.D., merencanakan tindak lanjut berupa praktik langsung dan pendampingan lapangan di tiga desa endemik DBD di Kabupaten Banyumas.

Langkah konkret ini akan menjadi model implementasi prinsip GEDSI yang adaptif dan berkelanjutan.

“Melalui program tersebut, UMP berupaya menjadikan Banyumas sebagai rujukan pengendalian vektor berbasis komunitas yang menjunjung tinggi nilai kesetaraan bagi seluruh warga,” katanya.

Pos terkait