Torik

Torik Jahidin – Pendidikan Agama Islam Benteng Baja Karakter Siswa

Pendidikan bernuansa Islami memang solusi tepat untuk membentengi moral anak bangsa zaman sekarang.

Pendidikan Islam pada dasarnya adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruhnya potensi manusia baik yang berbentuk jasmani maupun rohani.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ma’arif NU 08 Panican Torik Jahidin. M.PdI. Dikatakan Torik, potensi manusia yang berbentuk jasmani adalah potensi sesuatu hal terkait pergerakan tubuh atau life skill.

Sedangkan potensi manusia yang berbentuk rohani merupakan bagian pencernaan dari hal-hal yang bersifat ibadah.

“Di antara keduanya menjadi satu untuk kebutuhan jasmaniyah dan rohaniyah pada diri manusia itu sendiri. Melalui pendidikan semua orang sangat berharap akan ada perubahan pola hidup dan perilaku generasi masa depan,”ungkap Torik.

Pendidikan Islam lanjut Torik, mampu menghasilkan manusia muslim yang pintar secara intelektual dan terpuji secara moral.

Madrasah sebagai sarana pendidikan yang berciri khas Islam yang termaktub penyeimbang antara pengetahuan umum dan agama.

Dalam hal demikian, masyarakat mempunyai keyakinan akan anaknya yang bersekolah di madrasah, suatu saat kelak menjadi generasi yang tangguh dan dapat dibanggakan.

“Sebab melalui pendidikan di madrasah, maka anak-anaknya selain menjadi cerdas, juga diharapkan memiliki akhlak yang baik. Pendidikan di MTs NU 08 Panican  ini mendasarkan pada hikmah (kebijaksanaan-red) dan mau’idhah hasanah (ajakan yang baik-red),”,”tegas Torik.

Torik menyakini, pendidikan sebagai pondasi keberadaban dalam mengawal kemajuan bangsa menggugah para murid untuk hadir mengabdi demi terciptanya baldatul thoyyibatun wa robbun ghofur.

“Di samping itu, kita juga harus menjaga dan mewujudkan ukhuwwah islamiyyah (persaudaraan Islam), ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan berbangsa da bertanah air) serta ukhuwwah basyariyyah (persaudaraan sesama manusia),“ungkapnya.

Torik menjabarkan, para murid diharapkan memiliki karakter seperti sikap tasamuh (toleransi), ta’awun (saling tolong menolong), tawazun (Seimbang), dan tawasuth (moderat).

Juga menamkan isi kandungan prinsip-prinsip umat terbaik (mabadiu khaira ummah), seperti sikap jujur (as-shidqu), menepati janji (al-amanah wal wafa bil ahdi), bersikap adil (al-adalah),  sikap tolong-menolong (at-ta’awun), dan sikap konsisten (istiqomah).

“Sikap-sikap tersebut diajarkan dan dicontohkan (suri tauladan) kepada para murid. Sehingga dengan pengajaran dan contoh kepada para murid bahwa warga NU memiliki karakteristik dan prinsip umat yang terbaik, maka sikap tersebut akan melekat pada diri para murid sepanjang hayatnya. (mahendra yudhi krisnha)

Tinggalkan Balasan