Syafiq Ali Pendaki Asal Magelang yang Meninggal Dunia di Gunung Slamet Diduga Alami Hipotermia

Relawan SAR gabungan membawa turun jenazah Syafiq Ridhan Ali Razan (18), pendaki asal Magelang, dalam kondisi meninggal dunia di Gunung Slamet melalui jalur Gunung Malang, Kamis 15 Januari 2026.
Relawan SAR gabungan membawa turun jenazah Syafiq Ridhan Ali Razan (18), pendaki asal Magelang, dalam kondisi meninggal dunia di Gunung Slamet melalui jalur Gunung Malang, Kamis 15 Januari 2026.

TABLOIDELEMEN.com – Relawan SAR gabungan telah berhasil menemukan Syafiq Ridhan Ali Razan (18), pendaki asal Magelang, dalam kondisi meninggal dunia di Gunung Slamet pada Kamis 15 Januari 2026.

Relawan SAR menemukan korban dalam kondisi meninggal dunia pada Rabu 14 Januari 2026 sekira pukul 10.22 WIB.

Titik penemuan berada di jalur punggungan Gunung Malang area Batu Watu Langgar, sebuah wilayah yang menghubungkan Gunung Malang dan Baturraden.

Penemuan ini mengakhiri pencarian mandiri yang berlangsung sejak 9 Januari 2026 setelah operasi resmi sempat berhenti.

Arie Afandi, salah satu relawan SAR, menjelaskan bahwa tim menemukan sejumlah barang milik korban yang tercecer sebelum mencapai titik jasad.

Bacaan Lainnya

Barang-barang tersebut meliputi dompet, senter, tracking pole, jas hujan hijau, hingga selimut darurat.

Saat relawan mencapai lokasi, Syafiq berada dalam posisi telungkup dengan tubuh meringkuk.

“Kondisi lutut menyatu dengan wajah serta tangan yang memegang erat betis memperkuat dugaan bahwa korban mengalami hipotermia hebat sebelum mengembuskan napas terakhir,” katanya.

Cuaca Ekstrem Halangi Pencarian

Medan terjal dan suhu dingin ekstrem menjadi tantangan utama selama proses pencarian.

Arie menyebut karakter Gunung Slamet yang memiliki angin kencang serta kabut tebal sangat membatasi jarak pandang.

Meskipun tim sebelumnya pernah menyisir lokasi penemuan, kabut pekat membuat keberadaan korban tidak terlihat.

“Jarak pandang sangat terbatas, sehingga kemungkinan besar tim pencari sempat melewati lokasi tersebut tanpa melihat korban,” kata Arie.

Sebelumnya, Slamet Ardiyansyah dari BPBD Purbalingga menambahkan, bahwa relawan dari berbagai basecamp seperti Dipajaya, Gunung Malang, Bambangan dan Baturraden turut serta dalam aksi kemanusiaan ini.

Tim Search and Rescue Unit (SRU) masih mempertimbangkan jalur evakuasi terbaik untuk menurunkan jenazah dari puncak.

Keputusan jalur evakuasi, baik melalui Dipajaya maupun Bambangan, sangat bergantung pada kondisi cuaca di atas yang masih tidak menentu.

“Keberhasilan penemuan ini menjadi titik terang bagi keluarga meskipun membawa kabar duka mendalam,” katanya.

 

 

Pos terkait