Sekretaris DPP KBM Jawa Tengah, Agung Sudarmanto: Warisi Apinya, Jangan Abunya

Sekretaris Keluarga Besar Marhaenis (KBM) Provinsi Jawa Tengah, Agung Sudarmanto saat menyampailan materi Implementasi Pancasila dalam peringatan Bulan Bung Karno di Sekretariat SKS, Jalan Kimar, Semarang, Minggu 21 Juni 2026.
Sekretaris Keluarga Besar Marhaenis (KBM) Provinsi Jawa Tengah, Agung Sudarmanto saat menyampailan materi Implementasi Pancasila dalam peringatan Bulan Bung Karno di Sekretariat SKS, Jalan Kimar, Semarang, Minggu 21 Juni 2026.

TABLOIDELEMEN.com – Bangsa Indonesia wajib terus memelihara semangat perjuangan Bung Karno, selaku Bapak Marhaenisme, Sang Proklamator, dan Presiden Pertama Republik Indonesia.

Sekretaris Keluarga Besar Marhaenis (KBM) Provinsi Jawa Tengah, Agung Sudarmanto, menyatakan bahwa lambang atau atribut Bung Karno bagaikan “abu”, sedangkan inti perjuangan sesungguhnya adalah “api”.

“Warisi apinya, jangan abunya. Saya mengutip pidato Bung Karno tanggal 8 Oktober 1963,” tegas Agung dalam peringatan Bulan Bung Karno di Sekretariat Sedulur Kimar Semarang (SKS), Jalan Kimar, Semarang, Minggu 21 Juni 2026.

Ia mengingatkan seluruh warga agar tidak hanya terpaku pada simbol dan tata cara formalitas semata.

Menurut Agung, ada tiga pilar utama yang menyusun semangat ajaran Marhaenisme Soekarno, yaitu sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi.

Bacaan Lainnya
Milo

Serta ketuhanan yang berlandaskan budaya dan sikap saling menghormati.

Warisi Apinya, Jangan Abunya

Ajaran ini memuat proses pembelajaran yang mendalam agar kaum lemah mampu membangun kekuatan diri, lalu bersama-sama membangun negara demi kesejahteraan seluruh rakyat.

“Api Marhaenisme inilah yang harus kita lestarikan dan kembangkan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Sedulur Kimar Semarang (SKS), Agus Nowo, menjelaskan kegiatan peringatan Bulan Bung Karno ini bertujuan mengenang jasa dan perjuangan Bung Karno.

Bulan Juni memiliki makna sejarah yang mendalam: tanggal 1 Juni menjadi hari lahir Pancasila, saat Bung Karno menyampaikan gagasan dasar negara dalam sidang BPUPKI tahun 1945.

Tanggal 6 Juni menjadi hari kelahiran Sang Proklamator di Surabaya tahun 1901.

Sedangkan tanggal 21 Juni menandai hari berpulangnya Bung Karno pada tahun 1970.

“Kami akan terus mengadakan kegiatan ini secara rutin agar nilai ajaran Bung Karno tetap hidup dan berkembang, meski banyak tantangan menghadang,” katanya.

Agus menambahkan, catatan sejarah sempat mencoba menghapus ajaran Bung Karno serta menempatkannya pada posisi yang terpinggirkan.

Namun kini, Marhaenisme muncul kembali sebagai panduan penting untuk melawan paham neoliberalisme yang merugikan kehidupan rakyat.

“Alhamdulillah, sejarah akhirnya meluruskan kenyataan. Kini nama dan ajaran Bung Karno tetap terasa manfaatnya bagi kita semua,” ungkapnya.

Di sisi lain, Ketua Konsorsium Kerja Budaya, Kelana, menjabarkan perbedaan makna antara Marhaen, Marhaenis, dan Marhaenisme.

Marhaenis adalah setiap orang yang berjuang membela nasib kaum papa guna meningkatkan harkat dan martabat mereka menuju kesejahteraan serta kedaulatan penuh.

Marhaenisme adalah faham, pandangan hidup, teori, serta praktik perjuangan untuk mengangkat derajat kaum Marhaen.

“Sedangkan Marhaen adalah rakyat yang hidup dalam keterbatasan atau yang menjadi korban sistem kapitalisme dan penjajahan dalam berbagai wujudnya,” jelasnya.

Kegiatan ini berlangsung atas kerja sama Komunitas SKS — organisasi yang berpegang pada paham Nasionalis-Marhaenisme — bersama Keluarga Besar Marhaenis Provinsi Jawa Tengah dan Konsorsium Kerja Budaya.

 

 

 

Pos terkait

Milo