TABLOIDELEMEN.com – Polres Purbalingga menginisiasi Gerakan Pangan Murah (GPM) guna membantu warga memenuhi kebutuhan pokok menjelang perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah.
Kegiatan yang berlangsung pada Jumat 13 Maret 2026 ini menempati area halaman parkir Mapolres Purbalingga sebagai pusat penyaluran ratusan paket bahan makanan.
Kapolres Purbalingga, AKBP Anita Indah Setyaningrum, terjun langsung mengawasi jalannya pendistribusian komoditas tersebut.
Ia menyatakan bahwa instansinya menyiapkan persediaan yang cukup untuk menjangkau masyarakat luas.
“Kami menyelenggarakan Gerakan Pangan Murah, tersedia 400 paket sembako untuk masyarakat,” tutur Anita.
Anita merinci bahwa setiap kantong bantuan memiliki komposisi bahan pokok yang sangat lengkap untuk kebutuhan rumah tangga.
“Dalam gerakan pangan murah, setiap satu paket sembako terdiri dari beras, minyak, gula, mie instan dan telur,” katanya.
Upaya ini merupakan langkah konkret kepolisian dalam menjaga ketahanan pangan daerah sekaligus menekan potensi lonjakan harga di pasar jelang lebaran.
Mengenai mekanisme perolehan, warga cukup mengeluarkan uang senilai Rp100 ribu untuk menebus satu paket tersebut.
Rincian harga subsidi meliputi beras SPHP 5 kg seharga Rp50 ribu, 5 bungkus mie instan Rp10 ribu, dan 1 liter minyak goreng Rp14 ribu.
Serta, telur setengah kilogram Rp10 ribu, dan1 kg gula pasir Rp16 ribu. Harga ini berada jauh bawah standar harga pasar saat ini.
Kehadiran program tersebut memiliki misi kemanusiaan yang mendalam bagi kesejahteraan masyarakat kecil.
Ia berharap dengan gerakan pangan murah ini, masyarakat dapat terbantu dan dapat meringankan beban masyarakat akan kebutuhan bahan pokok menjelang Idul Fitri.
“Semoga membawa keberkahan untuk masyarakat Purbalingga,” tutur Kapolres
Inisiatif ini memanen respons positif dari para pengunjung, salah satunya Karimah, warga asal Padamara.
Ia merasa program ini sangat meringankan pengeluaran dapur keluarganya yang kian meningkat.
“Terima kasih kepada Polres Purbalingga, gerakan pangan murah sangat membantu kami masyarakat kecil,” pungkas Karimah penuh rasa syukur.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google News


















