TABLOIDELEMEN.com – Aparatur pelayanan publik wajib mengedepankan sikap netral serta ketenangan saat menghadapi berbagai keluhan masyarakat.
Penegasan tersebut mengemuka dalam acara Carnaval Entrepreneur bertema Service Excellent dan Teknis Pelayanan Pengaduan yang berlangsung di Auditorium Politeknik Madyathika Purbalingga, Selasa 10 Maret 2026.
Kegiatan edukatif ini merupakan buah kolaborasi strategis antara Politeknik Madyathika, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga, dan Bank Mandiri.
Hadir dalam acara tersebut, Kepala Dinkominfo Purbalingga, R. Budi Setiawan, bersama jajaran admin pelayanan informasi dari berbagai instansi, termasuk RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata.
Direktur Politeknik Madyathika Purbalingga, Taufik Dwi Laksono, menyebut pemilihan tema ini merupakan hasil koordinasi mendalam dengan Dinkominfo guna menjawab kebutuhan zaman.
“Yang melatarbelakangi tema hari ini karena kita harus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dan kita harus siap dengan aduan-aduannya,” tutur Taufik
Menurutnya, Pemkab Purbalingga sendiri terus memperluas akses komunikasi melalui kanal aduan resmi “Lapor MasBup”.
Masyarakat dapat mengakses layanan ini melalui laman daring maupun platform media sosial populer seperti WhatsApp, Instagram, TikTok, dan Facebook.
“Selain itu, pemerintah tentunya akan menjamin keterbukaan informasi publik melalui kanal PPID Kabupaten Purbalingga. Guna memastikan setiap aspirasi warga mendapat respons cepat dan tepat,” katanya.
Narasumber ahli dari Service Quality Bank Mandiri wilayah Semarang, Maria Claudia Karina, membagikan teknik profesional dalam mengelola emosi petugas garda terdepan saat berhadapan dengan khalayak yang menyampaikan komplain.
“Sikap ketika menghadapi keluhan khalayak yang pertama tetap tenang. Kemudian berikan respon, tawarkan solusi, tindak lanjuti, dan jangan salahkan khalayak,” kata Claudia di hadapan para peserta.
Menurutnya, seorang pelayan publik harus mampu memisahkan beban kerja pribadi dengan tanggung jawab profesional.
“Kemampuan mengendalikan emosi menjadi kunci utama. Tentunya agar masyarakat menerima solusi dari petugas dengan baik t tanpa menimbulkan konflik baru,” katanya.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google News


















