TABLOIDELEMEN.com – Perpustakaan Nasional (Perpusnas) kini mengemban tanggung jawab besar dalam membentuk generasi muda yang memiliki budaya literasi kuat.
Peran strategis ini mencuat seiring rencana pemerintah memberlakukan pembatasan akses media sosial bagi pelajar tingkat SMP ke bawah pada Maret 2026 mendatang.
Kebijakan tersebut bertujuan mengalihkan ketergantungan digital anak-anak menuju aktivitas yang lebih konstruktif.
Anggota Komisi X DPR RI, Karmila Sari, menegaskan bahwa kebijakan pembatasan media sosial bagi siswa SD dan SMP memerlukan strategi pengalihan yang matang.
Selama ini, sebagian besar anak-anak menghabiskan waktu mereka untuk mencari hiburan melalui gawai.
Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan upaya serius agar para siswa kembali menekuni kebiasaan membaca buku secara fisik sebagai sumber ilmu utama.
“Mulai Maret 2026, kita akan memblokir media sosial untuk anak-anak SMP ke bawah. Kita harus mengalihkan kebiasaan tersebut dengan mendorong mereka kembali membaca buku,” ujar Karmila
“Transisi dari layar gawai ke lembaran buku memerlukan dukungan fasilitas yang memadai dari negara,” katanya.
Perkuat Anggaran dan Kualitas
Demi menyukseskan peralihan budaya tersebut, Karmila mendorong pemerintah agar menambah alokasi anggaran bagi Perpusnas.
Penambahan dana ini sangat krusial untuk menyediakan koleksi buku fisik yang menarik dan mudah terjangkau oleh siswa di seluruh pelosok tanah air.
Karmila berpendapat bahwa peningkatan kualitas pendidikan nasional bermula dari kegemaran membaca yang tumbuh sejak usia dini.
Selain menaikkan taraf pendidikan, kebiasaan membaca secara intensif akan mengasah kemampuan berpikir kritis (critical thinking) pada generasi muda.
Kemampuan ini menjadi modal penting bagi siswa dalam memilah informasi dan menghadapi tantangan zaman.
Tanpa literasi yang kuat, anak-anak Indonesia akan sulit bersaing di kancah global.
Kondisi literasi di Indonesia saat ini memang masih memprihatinkan dan memerlukan penanganan segera.
Data Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menunjukkan bahwa tingkat literasi anak-anak Indonesia masih menempati peringkat bawah di skala internasional.
“Melalui momentum pembatasan media sosial ini, Perpusnas memiliki kesempatan emas untuk membalikkan keadaan dan membawa Indonesia keluar dari daftar negara dengan tingkat literasi terendah di dunia,” katanya.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google News











