TABLOIDELEMEN.com – Pemerintah Indonesia kembali memperingati Hari Desa Nasional pada 15 Januari 2026 sebagai momentum krusial untuk memperkuat ekonomi dari akar rumput.
Peringatan ini merujuk pada sejarah pengesahan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yang memberikan kedaulatan penuh bagi desa untuk mengelola wilayahnya secara mandiri.
Melalui regulasi tersebut, desa kini menempati posisi strategis sebagai subjek utama pembangunan nasional, bukan sekadar objek administratif.
Tahun ini, pemerintah mengusung tema “Kemandirian Digital untuk Kesejahteraan Desa” guna mendorong integrasi teknologi dalam tata kelola pemerintahan.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, menegaskan bahwa digitalisasi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
Menurutnya, digitalisasi adalah kunci utama untuk memotong rantai birokrasi yang panjang dan mempercepat layanan publik di tingkat lokal.
“Desa yang menguasai data dan teknologi akan lebih cepat mencapai status mandiri serta mampu memasarkan potensi lokal ke pasar global secara lebih efektif,” tegas Yandri Susanto.
Optimalisasi Ekonomi dan Peran BUMDes
Ia menjelaskan, tujuan utama peringatan ini mencakup optimalisasi Dana Desa guna menciptakan lapangan kerja melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Yandri Susanto menekankan agar seluruh perangkat desa menggunakan anggaran secara transparan untuk pembangunan infrastruktur yang berdampak langsung pada produktivitas warga.
“BUMDes harus menjadi “jangkar ekonomi” yang mampu mengonsolidasikan produk-produk unggulan desa,” katanya.
Mendorong Generasi Muda Membangun Desa
Melalui sinergi teknologi dan inovasi, pemerintah optimis desa akan menjadi motor penggerak ekonomi yang tangguh dalam menghadapi tantangan global.
Yandri Susanto secara khusus berpesan kepada para pemuda desa agar tidak lagi memandang kota sebagai satu-satunya tempat mencari peruntungan.
“Kita ingin mengubah pola pikir bahwa sukses harus di kota. Dengan kemandirian digital, anak muda bisa berinovasi dari desa tetapi memiliki jangkauan dunia,” katanya.
“Inilah cara kita membendung arus urbanisasi: dengan menghadirkan kesejahteraan di depan pintu rumah mereka sendiri,” tambahnya.
Langkah nyata ini harapannya mampu memotivasi generasi muda untuk membangun tanah kelahiran mereka.
“Menjadikan desa sebagai tempat yang menjanjikan secara ekonomi sekaligus nyaman secara sosial,” katanya.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google News















