Pemanfaatan Data Belajar Matematika Untuk Memperbaiki Kualitas Pengajaran
Pendidik seharusnya memanfaatkan data hasil belajar murid sebagai pintu masuk utama untuk memperbaiki kualitas pengajaran secara berkala.
“Sayangnya, data sering kali berhenti sebagai angka dalam laporan. Misalkan nilai 60, 70, atau 80 memang memberikan informasi tentang capaian siswa pada pembelajaran matematika,” kata Sri Adi Widodo.
Angka capaian tersebut belum mampu mengurai alasan utama murid mengalami kesulitan memahami materi.
Pendidik harus mencari tahu apakah siswa belum menguasai konsep dasar, sulit membaca soal, atau gagal menghubungkan matematika dengan kehidupan nyata.
Pemanfaatan data secara bijak membantu pendidik menentukan langkah konkret lanjutan tanpa memberi label pintar atau kurang pintar kepada murid.
Perubahan paradigma pengajaran menuntut pendidik memahami jalan pikiran siswa daripada sekadar menuntut hafalan rumus semata.
Kesalahan murid saat menjawab soal memberikan informasi berharga mengenai hambatan belajar serta pemahaman konsep yang mereka miliki.
“Sebagai contoh, murid kerap menjawab soal desimal secara mekanis tanpa memahami arti nilainya secara benar,” katanya.
Ia berharap, pendidik dapat memanfaatkan informasi dari kesalahan tersebut untuk merancang pertanyaan pemantik, serta memberikan pendampingan yang lebih efektif.
Tenaga pengajar yang berkualitas selalu menjadikan setiap kesulitan belajar murid sebagai sarana berharga untuk membenahi metode pengajaran.
“Semangat inilah yang tercermin dari perjalanan salah satu guru di lapangan, yang justru menemukan cara mengajar matematika yang menyenangkan dari keterbatasan yang dihadapinya,” ujar Sri Adi Widodo.

Meletakkan literasi digital menjadi urgensi, sebagai upaya transformasi untuk menghasilkan talenta digital dan menjadi rujukan informasi yang ramah anak, aman tanpa konten negatif.
Baca update artikel lainnya di Google News














