Menelisik Perbedaan Tunarungu dan Tuli, Antara Medis dan Identitas Budaya

Mayoritas orang lantas memilih menggunakan kata “tunarungu” karena merasa istilah tersebut terdengar lebih halus dan sopan ketimbang “tuli”.
Mayoritas orang lantas memilih menggunakan kata “tunarungu” karena merasa istilah tersebut terdengar lebih halus dan sopan ketimbang “tuli”.

TABLOIDELEMEN.com – Masyarakat kerap menganggap istilah “tunarungu” dan “tuli” memiliki makna serupa, yakni mengacu pada keterbatasan seseorang dalam mendengar.

Mayoritas orang lantas memilih menggunakan kata “tunarungu” karena merasa istilah tersebut terdengar lebih halus dan sopan ketimbang “tuli”.

Namun, anggapan ini ternyata meleset. Kedua istilah tersebut sejatinya mengandung makna fundamental yang berbeda.

Lantas, manakah istilah yang lebih tepat untuk mendeskripsikan kondisi ini? Mari kita bedah perspektifnya secara mendalam.

Secara harfiah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “tunarungu” merupakan istilah medis yang merujuk pada kerusakan pendengaran.

Bacaan Lainnya
 Tahun Baru 2026

Tenaga medis dan dokter pun senantiasa menggunakan terminologi ini dalam diagnosis klinis karena sifatnya yang formal.

Oleh karena itu, masyarakat awam sering kali mengadopsi kata ini sebagai bentuk penghalusan bahasa atau eufemisme.

Akan tetapi, realitas sosial menunjukkan fakta berbeda. Komunitas Tuli justru merasa lebih nyaman dan bangga menggunakan sapaan “Tuli” dengan penulisan huruf kapital “T”.

Bagi mereka, Tuli bukan sekadar defisit medis, melainkan sebuah identitas budaya yang kuat.

Mereka memandang sapaan Tuli mampu menunjukkan eksistensi sebuah kelompok masyarakat yang memiliki identitas sosial, sejarah, sistem nilai, tradisi, dan yang terpenting, memiliki bahasa ibu sendiri yakni bahasa isyarat.

Komunitas ini memegang teguh bahasa isyarat sebagai sarana komunikasi utama.

Mereka tidak merasa perlu memaksakan diri mengoptimalkan sisa pendengaran hanya agar menyerupai orang yang bisa mendengar (orang dengar).

Hal ini menegaskan bahwa menjadi Tuli adalah sebuah cara hidup yang unik, bukan sebuah kekurangan yang harus “sembuh”.

Dalam praktik komunikasi sehari-hari, kemampuan penyandang Tuli sangat beragam.

Beberapa orang hanya sanggup berkomunikasi secara lisan, sementara yang lain mengandalkan bahasa isyarat sepenuhnya, atau bahkan memadukan keduanya.

Untuk memfasilitasi hal ini, mereka mempelajari bahasa isyarat melalui sekolah khusus, komunitas, atau sesi terapi wicara agar dapat menyampaikan pesan secara efektif.

Sementara itu, dunia medis memetakan gangguan pendengaran ini ke dalam tiga kategori spesifik berdasarkan penyebabnya:

1.Gangguan Pendengaran Konduktif

Kondisi ini muncul akibat masalah pada telinga luar atau tengah yang menghambat hantaran suara. Penderita gangguan ini umumnya masih memiliki saraf pendengaran yang berfungsi baik karena infeksi hanya menyerang bagian mekanis telinga.

2.Gangguan Dengar Saraf

Berbeda dengan tipe konduktif, cedera pada saraf pendengaran menjadi pemicu utama jenis ini, bukan infeksi pada telinga luar. Kerusakan saraf ini berdampak langsung pada kemampuan otak menerima sinyal suara.

3.Gangguan Dengar Campuran

Kondisi ini merupakan gabungan dari kedua jenis sebelumnya. Seseorang mengalami kerusakan pada saraf pendengaran sekaligus menderita infeksi atau masalah pada telinga luar dan tengah.

Memahami perbedaan nuansa antara “Tunarungu” dan “Tuli” sangatlah krusial.

Menggunakan istilah yang tepat bukan hanya soal tata bahasa, melainkan bentuk penghormatan kita terhadap identitas dan pilihan budaya saudara-saudara kita di komunitas Tuli.

Pos terkait