TABLOIDELEMEN.com – Lagu Desember Kelabu merupakan salah satu tembang abadi dalam khazanah musik pop Indonesia, menyuarakan kesepian dan penantian panjang pada penghujung tahun.
Banyak orang mengira Yuni Shara membawakan lagu ini pertama kali, karena sukses besar meraih hati pendengar pada tahun 1997.
Tetapi, menelusuri sejarah aslinya membawa kita kembali ke era 1980-an, menemukan kisah pilu penyanyi orisinalnya.
Pencipta lagu ikonik ini adalah musisi legendaris, A. Riyanto.
Kemampuan menciptakan melodi manis dan lirik menyentuh memang terkenal sebagai keunggulannya.
Oleh karenanya, tangan dingin A. Riyanto berhasil melahirkan komposisi yang bertahan lintas generasi.
Penyanyi pertama kali mempopulerkan karya ini adalah Maharani Kahar pada tahun 1982.
Album debut Maharani Kahar menyandang nama lagu itu sendiri dan langsung meledak, mencatatkan diri sebagai salah satu lagu paling populer saat itu.
Namun, sayangnya, Maharani Kahar memilih memfokuskan karir profesionalnya sebagai karyawan Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Pilihan itu membatasi kegiatan promosi dan penampilan panggungnya secara masif. Kenyataan itu membuat lagu ini seperti mencari tuan rumah baru.
Akhirnya, Yuni Shara merekam ulang lagu tersebut pada 1997, membawa “Desember Kelabu” meraih popularitas puncak.
Versi Yuni Shara segera lekat pada ingatan masyarakat hingga kini, melampaui kepopuleran penyanyi aslinya, Maharani Kahar.
Lirik Desember Kelabu
Berikut kutipan lirik Desember Kelabu yang menyentuh:
Angin dingin, meniup mencekam Di bulan Desember, air hujan turun Membasahi bumi, dan juga membasahi Pipi…
Ku teringat, padamu yang t’lah pergi Dan meninggalkan, diriku sendiri Bulan Desember, kelabu…
Reff:
Tinggallah kini, seuntai kata Malam sepi, hampa dan kelam Ingin ku lupakan, semua cerita Tetapi tak mampu, ku mengenangnya…
Angin dingin, meniup mencekam Di bulan Desember, air hujan turun Membasahi bumi, dan juga membasahi Pipi…
Ku teringat, padamu yang t’lah pergi Dan meninggalkan, diriku sendiri Bulan Desember, kelabu…
(Kembali ke Reff)
Tinggallah kini, seuntai kata Malam sepi, hampa dan kelam Ingin ku lupakan, semua cerita Tetapi tak mampu, ku mengenangnya…
Bulan Desember, kelabu… Bulan Desember, kelabu…

Awali dengan kepedulian, niscaya akan menjadi gagasan dalam menulis
















