TABLOIDELEMEN.com – Lazuardi di ufuk Desa Mangunegara, satu wilayah asri yang masuk dalam bagian administratif Kecamatan Mrebet, Purbalingga, kini menyimpan sebuah permata arsitektur yang memikat mata.
Masjid Nusantara Watu Sanggar berdiri megah, bukan sekadar sebagai rumah sujud, melainkan sebagai sebuah narasi visual tentang pertemuan mesra antara nilai Islam dan kearifan lokal Nusantara.
Bangunan ini merangkum esensi spiritualitas yang berakar kuat pada bumi Jawa melalui perpaduan kubah megah dan ornamen gunungan yang artistik.
Perjalanan menuju situs religi ini menawarkan pengalaman visual yang menenangkan.
Anda dapat memulai rute dari Alun-Alun Purbalingga menuju arah utara melalui Jalan Ahmad Yani hingga sampai di perempatan patung knalpot.
Dari sana, pengemudi cukup mengambil arah lurus menuju Jalan Raya Bojongsari yang melintasi kawasan hijau.
Setelah menempuh jarak sekitar 10 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 20 menit, sampailah kita di jantung Desa Mangunegara, lokasi tempat masjid ini bernaung.
Setiap sudut bangunan menyimpan makna filosofis yang mendalam. Penanggung jawab Masjid Nusantara Watu Sanggar, Amir Panoto, menguraikan bahwa pembangunan memakan waktu sekitar dua tahun sejak awal 2024.
Sedangkan, ketelitian para perajin tampak pada 25 ornamen gunungan yang menghiasi sisi bangunan, sebuah perlambang jumlah nabi dan rasul dalam ajaran Islam.
“Masjid ini dibangun dengan ornamen yang memadukan seni Islam dan budaya Jawa. Desainnya sangat kental dengan detail budaya Jawa,” jelas Amir saat menunjukkan kemegahan interiornya.
Satukan Harmoni Iman dan Budaya
Simbolisme berlanjut pada bagian atap yang mengusung sembilan kubah menyerupai stupa.
Jumlah ini merupakan bentuk penghormatan tinggi kepada Wali Songo, sang penyebar risalah Islam di tanah Jawa. Melengkapi kemegahan tersebut, terdapat lima kubah kecil yang mengitari bangunan sebagai representasi rukun Islam.
Struktur ini menciptakan kesan bahwa iman tidak harus menghapus identitas asal, melainkan memperkaya nilai-nilai yang sudah ada di tengah masyarakat.
Masjid ini memikul ambisi besar sebagai pusat peradaban, bukan hanya ruang untuk ibadah ritual semata.
TakmirMasjid juga telah merancang program pendidikan dan pemberdayaan masyarakat guna memutar roda ekonomi lokal.
Sementara masjid ini juga menjadi potensi sebagai destinasi wisata religi baru di Kabupaten Purbalingga sangat terbuka lebar, mengingat keunikan visualnya mampu menarik minat wisatawan lintas daerah.
Oleh karena itu, kehadiran Watu Sanggar membuktikan bahwa harmoni antara nilai spiritual dan kearifan lokal dapat melahirkan sebuah karya yang abadi sekaligus memberdayakan jiwa-jiwa di sekitarnya.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google News

















