TABLOIDELEMEN.com – Memahami perbedaan nuansa antara “Tunarungu” dan “Tuli” sangatlah krusial.
Menggunakan istilah yang tepat bukan hanya soal tata bahasa, melainkan bentuk penghormatan kita terhadap identitas dan pilihan budaya saudara-saudara kita di komunitas Tuli.
Mayoritas orang lantas memilih menggunakan kata “tunarungu” karena merasa istilah tersebut terdengar lebih halus dan sopan ketimbang “tuli”.
Masyarakat awam sering kali mengadopsi kata “tunarungu” ini sebagai bentuk penghalusan bahasa atau eufemisme.
Akan tetapi, realitas sosial menunjukkan fakta berbeda.
Komunitas Tuli justru merasa lebih nyaman dan bangga menggunakan sapaan “Tuli” dengan penulisan huruf kapital “T”.
Bagi mereka, Tuli bukan sekadar defisit medis, melainkan sebuah identitas budaya yang kuat.
Mereka memandang sapaan Tuli mampu menunjukkan eksistensi sebuah kelompok masyarakat.
Komunitas yang memiliki identitas sosial, sejarah, sistem nilai, tradisi, dan yang terpenting, memiliki bahasa ibu dan memegang teguh bahasa isyarat sebagai sarana komunikasi utama.
Mereka tidak merasa perlu memaksakan diri mengoptimalkan sisa pendengaran hanya agar menyerupai orang yang bisa mendengar (orang dengar).
Hal ini menegaskan bahwa menjadi Tuli adalah sebuah cara hidup yang unik, bukan sebuah kekurangan yang harus “sembuh”.
Dalam praktik komunikasi sehari-hari, kemampuan penyandang Tuli sangat beragam.
Beberapa orang hanya sanggup berkomunikasi secara lisan, sementara yang lain mengandalkan bahasa isyarat sepenuhnya, atau bahkan memadukan keduanya.
Untuk memfasilitasi hal ini, mereka mempelajari bahasa isyarat melalui sekolah khusus, komunitas, atau sesi terapi wicara agar dapat menyampaikan pesan secara efektif.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google News











