Nyai Laksmi Teater Proses Unwiku
Kisah Nyai Laksmi mengangkat pergulatan batin dan sosial di tengah masyarakat pedesaan Jawa, khususnya budaya Banyumasan.
Tradisi lokal masyarakat Jawa zaman dulu yaitu gowokan menjadi fondasi cerita.
Penggambaran Nyai Laksmi sebagai sosok perempuan kuat, cerdas, dan berprinsip, yang dipercaya mampu “mendewasakan” laki-laki secara simbolik.
Pengemasan konflik dalam alur emosional yang menyuguhkan humor, konflik keluarga, romansa, hingga tragedi.
Seekor ayam bahkan dihadirkan sebagai metafora kejantanan, menjadikan pertunjukan ini tidak hanya estetis tetapi juga kritis.
Adegan akhir yang teatrikal membuat pertunjukan ini menjadi sarat makna.
Ketua Dewan Kesenian Purbalingga, Trisnanto Budidoyo mengatakan, pertunjukan teater ini merupakan kerja sama antara Teater Proses Unwiku, Dewan Kesenian Purbalingga, dan Katasapa Purbalingga.
Pihaknya memfasilitasi kelompok teater untuk meramaikan panggung Mahesa Jenar.
“Antusiasme dan apresiasi penonton menjadi bukti bahwa seni pertunjukan masih banyak peminatnya di tengah ramainya konten media social,” katanya
Sedangkan menurut Pimpinan Produksi, Rifai Fahrezi, pementasan ini tidak hanya bertujuan memberikan hiburan.
Tetapi juga menghadirkan refleksi sosial, edukasi budaya, dan ruang ekspresi bagi pegiat seni mahasiswa.
“Kami ingin teater hadir di tengah masyarakat sebagai bentuk hiburan yang bermakna, mempererat hubungan sosial, dan menjadi wadah kolaborasi yang bermanfaat,” tuturnya.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google News


















