Historia Perwira Peringati 110 Tahun Jenderal Besar Soedirman

Komunitas Historia Perwira menyelenggarakan diskusi khusus guna memperingati 110 tahun kelahiran Jenderal Besar Soedirman di Kedai Pojok Taman Kota pada Kamis 29 Januari 2026 malam
Komunitas Historia Perwira menyelenggarakan diskusi khusus guna memperingati 110 tahun kelahiran Jenderal Besar Soedirman di Kedai Pojok Taman Kota pada Kamis 29 Januari 2026 malam

TABLOIDELEMEN.com- Komunitas Historia Perwira menyelenggarakan diskusi khusus guna memperingati 110 tahun kelahiran Jenderal Besar Soedirman.

Forum yang berlangsung di Kedai Pojok Taman Kota pada Kamis 29 Januari 2026 malam menjadi momentum refleksi atas dedikasi Panglima Besar pertama TNI tersebut bagi Indonesia.

Pemilihan waktu diskusi memiliki makna mendalam karena Januari merupakan bulan kelahiran sekaligus bulan kepulangan sang jenderal.

Tokoh militer ini lahir di Dusun Rembang, Desa Bantarbarang, Purbalingga pada 24 Januari 1916.

“Jenderal Soedirman wafat juga pada Bulan Januari, tanggal 29, tahun 1950 di Magelang. Jadi, malam hari ini kita berdiskusi mengenang keteladanan Jenderal Soedirman pada bulan kelahiran dan wafatnya,” tutur Founder Historia Perwira, Gunanto Eko Saputro.

Bacaan Lainnya

Gunanto, yang bertindak sebagai pemantik diskusi, menegaskan bahwa Soedirman merupakan tokoh terbesar yang lahir dari rahim Purbalingga.

“Identitas sang jenderal kini melekat erat pada berbagai aspek kehidupan masyarakat setempat, mulai dari nama jalan, gedung, hingga semboyan kota,” katanya.

Menurutnya, masyarakat menyematkan nama Jenderal Soedirman untuk nama jalan, gedung dan branding kota kita seperti Purbalingga Bumi Soedirman, Laskar Soedirman untuk julukan suporter Persibangga dan lainnya.

“Maka penting bagi kita untuk belajar dari Jenderal Soedirman,” tegasnya

Alur diskusi semakin mendalam saat membahas perjalanan hidup putra pasangan Karsid dan Siyem tersebut.

Soedirman mengawali langkah dari keluarga sederhana, menjalani profesi guru, hingga akhirnya memegang tongkat komando tertinggi tentara.

Moderator diskusi dari Komunitas Literasi Purbalingga, Wafa, menyebut sosok ini sebagai simbol kekuatan mental.

Sang panglima tetap memimpin perang gerilya meski kondisi fisiknya sedang melemah akibat penyakit paru-paru.

“Jenderal Soedirman bukan sekadar nama dalam buku sejarah, Ia adalah simbol tentang bagaimana semangat bisa mengalahkan keterbatasan,” kata Wafa.

Senada dengan hal tersebut, aktivis Purbalingga, Bayu Kisnandi, mengajak generasi muda menyerap nilai kerja keras dan pengorbanan sang tokoh.

Sejarah mencatat Soedirman meraih posisi panglima pada usia 29 tahun dan mengembuskan napas terakhir pada usia 34 tahun.

Bayu menyoroti satu momen ikonik saat dokter melarang sang jenderal berangkat berperang karena sakit.

Namun, sang panglima menjawab dengan tegas: “Yang sakit adalah Soedirman, panglima tidak boleh sakit.”

“Pernyataan tersebut menunjukkan dedikasi luar biasa Soedirman kepada republik ini,” tegas Bayu.

Menutup diskusi, para peserta mengenang pesan kuat sang jenderal mengenai tanggung jawab moral.

Soedirman pernah berpesan bahwa kejahatan akan menang bila orang yang benar tidak melakukan apa-apa.

Harapannya, nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai kutipan media sosial semata, melainkan menjelma dalam tindakan nyata masyarakat.

Pos terkait