Hasil Pengamatan BMKG Semarang, Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Belum Terindikasi Memasuki Jawa Tengah

Fenomena tanah berdebu yang belakangan ini meresahkan warga di beberapa kabupaten atau kota sebenarnya bersumber dari kondisi musim kemarau. Foto Ilustrasi: Alun-alun Purbalingga
Fenomena tanah berdebu yang belakangan ini meresahkan warga di beberapa kabupaten atau kota sebenarnya bersumber dari kondisi musim kemarau. Foto Ilustrasi: Alun-alun Purbalingga

 TABLOIDELEMEN.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang memastikan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau belum memasuki wilayah Jawa Tengah.

Kepastian ini diperoleh setelah BMKG menggelar pengamatan langsung menggunakan media paper test abu vulkanik pada 7 September 2026.

Pengamatan yang berlangsung di Semarang, Cilacap, serta Tegal tersebut menunjukkan hasil negatif.

Dengan demikian, tidak ada indikasi deposisi material erupsi di tanah Jawa Tengah.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo, mengimbau masyarakat agar tidak mengambil kesimpulan mandiri hanya berdasarkan peta angin aplikasi pihak ketiga.

Bacaan Lainnya

“Peta angin hanya menunjukkan arah angin, bukan konsentrasi atau jalur sebaran abu vulkanik,” katanya.

Menurutnya, fenomena tanah berdebu yang belakangan ini meresahkan warga di beberapa kabupaten atau kota sebenarnya bersumber dari kondisi musim kemarau.

Saat ini kawasan Jawa Tengah tergolong sangat kering. Sebanyak 24 wilayah bahkan berada dalam status awas karena telah melewati masa tanpa hujan lebih dari 61 hari.

Permukaan tanah yang mengering membuat material debu sangat mudah terangkat oleh hembusan angin maupun lalu lalang aktivitas masyarakat.

“Oleh karena itu, debu di lingkungan sekitar merupakan debu lingkungan biasa, bukan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau,” katanya.

Pos terkait

Acer2026