Gus Miftah

Gus Miftah Bikin Baper Milenial, Ini 9 Ungkapan Cinta dan Rayuan yang Paling Populer

KH Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah) pernah mendapat gelar ‘Presiden Para Pendosa’

Pemberian gelar ini karena banyak membimbing anak-anak ‘dunia malam’ itu menebarkan ungkapan cinta, rayuan maut, sampai gojlokan atau sindiran yang relatif mengena.

Saat mengisi pengajian di Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, Kamis 26 Mei 2022 malam, Gus Miftah melontarkan kata-kata itu membuat hadirin tersipu, tertawa, sampai geleng-geleng kepala karena tabu dan apa adanya.

Berikut  kata-kata cinta, rayuan gombal, dan gojlokan atau sindiran Gus Miftah, yang terangkum dari ceramahnya di depan ribuan hadirin pada malam pengajian itu.

  1. Sahabat itu seperti mata dan tangan. Mata menangis, tangan mengusap. Tangan terluka, mata menangis.
  2. Makan semangka minumnya susu. Hai orang Mojokerto, I love U
  3. Cinta itu menjadikan yang susah jadi mudah.
  4. Mudah-mudahan hujan kali ini membawa berkah untuk kita semuanya. Hujan pergi meninggalkan genangan, Gus Miftah pergi meninggalkan kenangan.
  5. Yakinlah hujan itu turun, bukan jatuh. Yang jatuh itu aku: jatuh hati sama kamu.
  6. Buah belimbing, buah pisang. Wajahnya glowing kakinya belang-belang.
  7. Suami jahat itu adalah suami yang mampu beli rokok untuk dirinya, tapi tidak mampu beli skincare untuk istrinya.
  8. Kamu itu lucu: kaget kok yang dipegang mulut. Kaget itu di dada. Jangan-jangan kamu kayak pohon pisang: punya jantung tapi enggak punya hati.
  9. Yakinlah, cintaku padamu memang tidak seindah Surat Cinta untuk Starla. Tapi yakinlah: cintaku padamu Lillaahi Ta’aala.

Memang, kata-kata di atas tak dapat dipedomani sepenuhnya. Sebagaimana kiai NU, Gus Miftah melontarkan ungkapan tersebut sebagai bumbu di setiap pengajiannya.

Hal ini tak lain untuk berkomunikasi dengan audiens, terutama generasi milenial yang banyak dipersepsikan rentan galau.

Adapun poin yang ditekankan Gus Miftah pada malam itu adalah tentang pentingnya peran seorang guru. Ungkapan serta gojlokan itu hanya sebagai bumbu.

 

Tinggalkan Balasan