TABLOIDELEMEN.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar secara resmi mengumumkan bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Penetapan ini merujuk pada hasil Sidang Isbat yang berlangsung di Kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Kamis malam.
Melalui keputusan tersebut, pemerintah memastikan umat Islam yang mengikuti ketetapan negara akan menggenapkan masa puasa Ramadan menjadi 30 hari.
Nasaruddin Umar memimpin langsung jalannya sidang yang melibatkan para pakar astronomi dan perwakilan organisasi masyarakat Islam.
“1 Syawal 1447 H/ 2026 M jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026,” kata Nasaruddin seperti tertulis di laman nu.or.id.
Keputusan tersebut muncul setelah tim ahli mempertimbangkan data posisi hilal dari berbagai titik pantau di seluruh wilayah Indonesia.
Perbedaan Metode Penetapan Lebaran
Hasil Sidang Isbat ini memunculkan perbedaan dengan keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menetapkan Idulfitri satu hari lebih awal.
Muhammadiyah melalui maklumat resminya menyatakan bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Perbedaan ini terjadi karena adanya keragaman metode penghitungan antara kriteria imkanur rukyat pemerintah dan metode hisab hakiki wujudul hilal.
Menyikapi hal tersebut, Menteri Agama meminta seluruh masyarakat tetap mengedepankan sikap saling menghargai.
“Ketetapan sidang isbat ini diambil setelah mempertimbangkan hasil hisab posisi hilal dan laporan rukyatul hilal di berbagai daerah di Indonesia,” kata Nasaruddin.
Ia menekankan bahwa perbedaan merupakan hal yang lumrah dalam khazanah keislaman di Indonesia.
Nasaruddin Umar juga menitipkan pesan mendalam mengenai pentingnya stabilitas sosial selama masa perayaan hari raya.
“Kami mengimbau seluruh umat Islam Indonesia untuk senantiasa menjaga ketenangan, keamanan, ketertiban, dan kebersamaan selama masa lebaran tahun ini,” imbuhnya.
Menutup keterangannya, ia berharap semangat Idulfitri mampu memperkuat persaudaraan nasional.
“Kepada rekan-rekan kita yang mungkin akan beribadah lebih dahulu, kami mohon agar tetap bertoleransi terhadap saudara-saudaranya yang masih melanjutkan puasa hingga 30 hari,” kata Nasaruddin.

Menulis itu tidak selalu dengan paragraf-paragraf yang panjang. Menulislah tentang perasaan kita dan tentang apa yang ada dipikiran kita. Tanpa tersadar, kita sesungguhnya telah menulis.
Baca update artikel lainnya di Google News



















