Muhammadiyah Lebaran di Jumat Legi, Simbol Keteduhan Sanggar Waringin Menurut Primbon Jawa

Muhammadiyah Lebaran di Jumat Legi, Simbol Keteduhan Sanggar Waringin Menurut Primbon Jawa
Muhammadiyah Lebaran di Jumat Legi, Simbol Keteduhan Sanggar Waringin Menurut Primbon Jawa

TABLOIDELEMEN.com – Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah secara resmi mengumumkan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah yang jatuh pada Jumat Legi, 20 Maret 2026.

Keputusan ini merujuk pada parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)

Yakni sistem penanggalan internasional yang menyatukan umat Islam sedunia dalam satu kesatuan hari dan tanggal tanpa sekat wilayah negara.

Melalui penerapan metode KHGT, Muhammadiyah memastikan seluruh muslim di berbagai belahan bumi merayakan Idulfitri pada hari yang sama.

Langkah ini mengedepankan prinsip kesatuan kalender Islam global guna meniadakan perbedaan waktu pelaksanaan ibadah antarnegara.

Bacaan Lainnya
Promo Cleo 1 Liter

Penetapan tersebut sekaligus membawa dimensi budaya lokal yang menarik bagi masyarakat Jawa.

Hal ini mengingat hari raya tersebut bertepatan dengan weton Jumat Legi.

Simbol Keteduhan Sanggar Waringin Menurut Primbon Jawa

Dalam perspektif Primbon Jawa, Jumat Legi menempati kedudukan istimewa dengan total neptu 11, hasil perpaduan angka Jumat bernilai 6 dan pasaran Legi bernilai 5.

Angka ini melambangkan sosok yang membawa kesejukan bagi lingkungan sekitar.

Filosofi Jawa kuno mengibaratkan karakter Jumat Legi layaknya Sanggar Waringin, sebuah pohon beringin kokoh yang memberikan perlindungan serta rasa aman bagi siapa saja.

Pakar kebudayaan lokal menjelaskan bahwa pemilik weton ini biasanya memiliki hati yang sangat lapang dan jarang menyimpan dendam.

Karakter mereka yang cenderung mengalah demi kepentingan bersama tidak lantas menghapus pendirian kuat terhadap prinsip kebenaran.

Ketenangan dalam berpikir membuat jemaah atau individu yang lahir pada hari ini tampak berwibawa di mata rekan sejawat.

Transisi dari suasana ibadah menuju interaksi sosial kian harmonis berkat sifat rendah hati yang melekat pada karakter Jumat Legi.

Hal ini memudahkan masyarakat untuk saling memaafkan dan menjalin silaturahmi dengan rasa nyaman.

Sementara, melalui perayaan Idulfitri pada Jumat Legi ini, umat dapat mengambil pelajaran penting tentang cara menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama manusia.

Weton Jumat Legi dalam momentum lebaran kali ini bukan sekadar penanda waktu, melainkan pengingat bagi setiap individu untuk menanamkan sifat teduh dan pelindung.

Harapannya, kehidupan bermasyarakat tetap berjalan harmonis melalui semangat pengabdian dan penjagaan amanah yang tulus.

 

 

 

 

 

 

Pos terkait