TABLOIDELEMEN.com – Komunitas Historia Perwira menggelar diskusi menarik untuk membahas fenomena temuan batu purba di Purbalingga.
Gunanto Eko Saputro selaku penggagas diskusi menyampaikan bahwa kemunculan batuan tersebut memantik rasa penasaran publik mengenai potensi jejak peradaban masa lalu.
Berbagai formasi batuan unik kini menjadi sorotan utama para pegiat sejarah setempat.
Gunanto memaparkan sejumlah lokasi temuan mencolok, seperti formasi batu Igir Karem di Karangjambu yang menyerupai tembok bangunan.
Warga juga menemukan batuan simetris di Candi Wurung Ponjen serta Pilar-Pilar Batu Kekar di Talun Wringin Panusupan.
Fenomena Geologis dan Temuan Arkeologis
Secara geologis, formasi itu terbentuk secara alamiah melalui proses sains atau sering disebut columnar joint.
“Namun, manusia purba sering memanfaatkan batuan alam semacam itu untuk sarana pemujaan atau kebutuhan hidup,” katanya, Jumat 25 September 2026.
Ia menjelaskan, peristiwa serupa nampak pada situs Gunung Padang di Cianjur yang memanfaatkan batuan alami menjadi punden berundak megah.
Catatan riset Pusat Penelitian Arkeologi Nasional tahun 1983 memperkuat indikasi tersebut melalui penemuan puluhan situs purbakala di wilayah ini.
“Data resmi mencatat ada 22 situs purbakala di Purbalingga yang membuktikan eksistensi sejarah masa lampau bukan sekadar isapan jempol,” katanya.
Langkah Nyata Pemberdayaan Sejarah Lokal
Sementara, pegiat literasi, Afit Susanto menegaskan, bahwa penemuan penting ini memerlukan penelitian lanjutan secara komprehensif.
“Upaya ilmiah tersebut tentu memperkaya khazanah ilmu pengetahuan serta memperjelas catatan sejarah lokal,” tuturnya.
Menanggapi hal itu, Slamet Santosa menyatakan bahwa kekayaan warisan masa lalu mampu memperkuat identitas serta menjadi daya tarik branding daerah.
“Masyarakat harus mengambil tindakan nyata untuk merawat situs tanpa merusak kelestarian lingkungan sekitar,” katanya.
Sedangkan Kepala Desa Ponjen, Romidi, menyambut positif kegiatan tersebut serta mendorong kolaborasi lintas stakeholder.
Sinergi antar-berbagai pihak mengangkat potensi desa sekaligus mendongkrak kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
“Rangkaian acara yang hangat ini mencerminkan tingginya antusiasme peserta dari berbagai kalangan,” katanya.

Bagi saya yang juga seorang ibu rumah tangga, menulis dapat dijadikan media terapi. Berbagi cerita, mengungkapkan emosi, meredakan stres, dan melepaskan kebosanan.
Baca update artikel lainnya di Google News












