Menempatkan Keris pada Takhta Sakral, Menjaga Denyut Nadinya di Era Modern

Lelaki Jawa memegang teguh keyakinan bahwa keris merupakan piandel atau perisai spiritual yang mencerminkan status sosial, karakter, serta kematangan jiwa pemiliknya.
Lelaki Jawa memegang teguh keyakinan bahwa keris merupakan piandel atau perisai spiritual yang mencerminkan status sosial, karakter, serta kematangan jiwa pemiliknya.

TABLOIDELEMEN.com – Kultur Jawa menempatkan keris pada takhta sakral, jauh melampaui fungsi senjata tikam semata.

Lelaki Jawa memegang teguh keyakinan bahwa keris merupakan piandel atau perisai spiritual yang mencerminkan status sosial, karakter, serta kematangan jiwa pemiliknya.

Sebilah keris bagi mereka merepresentasikan simbol kejantanan yang manunggal dengan raga.

Oleh karena itu, masyarakat memandang pusaka ini sebagai entitas bernyawa yang menuntut penghormatan khusus.

Tawarikh sejarah merekam jejak dapur legendaris dengan pamor mematikan pada masa lampau.

Bacaan Lainnya

Masyarakat Jawa mengenal Kyai Nogo Sosro dan Kyai Sengkelat yang konon memeram energi metafisika mumpuni.

Menempatkan Keris pada Takhta Sakral

Menurut pengamat tosan aji, Teguh Purwanto, para kesatria dahulu percaya bahwa bilah-bilah ampuh, semisal Kyai Setan Kober, sanggup memancarkan aura kewibawaan dahsyat.

Pusaka ini bahkan mampu menundukkan lawan tanpa perlu menyentuh fisik mereka sedikit pun. Kekuatan ini muncul karena perpaduan material pilihan dan lantunan doa sang pembuat.

Proses penciptaan mahakarya ini berlangsung lewat tangan dingin seorang Empu yang melakoni laku tirakat sunyi dan puasa mutih.

“Sang Empu menyatukan lapisan besi, baja, dan material meteorit menggunakan teknik tempa lipat yang sangat kompleks,” katanya, Selasa 16 Desember 2025.

Ia mengatakan, pada umumnya mereka memanaskan logam dalam bara api, lantas memukul dan melipatnya berulang kali hingga ribuan lapisan guna memunculkan motif pamor nan eksotis.

“Manufaktur ini menuntut harmoni sempurna antara kepiawaian teknik metalurgi kuno dan kematangan batin sang pembuat,” katanya.

Menjaga Denyut Nadi Keris

Sementara Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Purbalingga, Trisnanto Budidoyo menuturkan, dunia internasional pun telah mengakui keagungan ini.

UNESCO menetapkan keris sebagai Karya Agung Warisan Kemanusiaan (Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 25 November 2005.

Badan PBB tersebut lantas memasukkan pusaka ini ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2008.

Fakta ini menegaskan bahwa keris berdiri tegak sebagai identitas bangsa, filosofi hidup, dan seni adiluhung, bukan sekadar artefak kuno.

“Tentunya, masyarakat wajib merawat warisan agung ini agar tak lenyap tergerus arus zaman,” katanya.

Trisnanto berharao, generasi muda perlu menyelami filosofi pamor dan rutin melaksanakan ritual jamasan atau pencucian keris setiap bulan Suro.

Seluruhnya seyogianya mengenakan keris saat seremoni adat dengan penuh kebanggaan.

Komunitas kolektor pun perlu gencar mengedukasi publik tentang nilai estetika tosan aji.

“Dengan langkah konkret tersebut, kita menjaga nyala kebudayaan Nusantara tetap lestari melintasi zaman,” katanya.

Pos terkait