Menelusuri Akar Sejarah dan Perbedaan Klenteng serta Vihara

Klenteng Hok Tek Bio Purbalingga
Klenteng Hok Tek Bio Purbalingga

TABLOIDELEMEN.com – Warna merah menyala dan aroma hio yang khas seringkali menjadi identitas visual yang melekat pada bangunan peribadatan masyarakat Tionghoa di Indonesia.

Meski secara sekilas tampak serupa, bangunan-bangunan ini menyimpan perbedaan fungsi yang mendalam.

Masyarakat awam sering menyamakan antara klenteng dan vihara, padahal keduanya memiliki akar sejarah dan peruntukan yang tidak identik.

Klenteng, atau yang memiliki nama asli miao, merupakan rumah ibadah bagi umat Konghucu.

Sejarah mencatat keberadaan institusi ini sudah ada sejak masa kepemimpinan Raja Suci Yao dan Shun sekitar tahun 2356 hingga 2205 Sebelum Masehi.

Bacaan Lainnya

Pada era tersebut, tradisi sembahyang kepada Tian dan leluhur memiliki aturan protokoler yang sangat ketat.

Hanya kalangan raja dan anggota kerajaan Tiongkok yang memegang hak istimewa untuk bersembahyang di dalam klenteng.

Pergeseran Fungsi dan Dinamika Zaman

Seiring berjalannya waktu, sekat-sekat kelas sosial tersebut mulai runtuh.

Klenteng kini merangkul seluruh kalangan, mulai dari bangsawan hingga rakyat biasa, dan tersebar luas di berbagai pelosok nusantara.

Catatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengungkapkan bahwa pembangunan klenteng di Indonesia mengalami perkembangan pesat sejak abad ke-17.

Setiap zaman membawa karakteristik tersendiri, seperti Klenteng Jin De Yuan di Glodok yang lahir untuk memenuhi keperluan spiritual komunitas tertentu pada masa awal kedatangannya.

Memasuki abad ke-18 dan ke-19, pembangunan klenteng mulai mencerminkan struktur sosial masyarakat setempat.

Kelompok perajin hingga kongsi dagang mendirikan tempat ibadah mereka sendiri, seperti Lu Pan Bio di Pinangsia yang menjadi pusat spiritual para tukang kayu.

Dinamika ini terus berubah hingga memasuki abad ke-20.

Pengaruh gerakan nasionalisme memicu munculnya jenis bangunan baru yang menyatukan unsur klenteng dengan vihara.

Fenomena ini melahirkan tempat ibadah seperti Vihara Tri Ratna, yang menunjukkan bagaimana sejarah dan kebutuhan spiritual manusia terus beradaptasi mengikuti arus zaman.

 

 

 

Pos terkait