Melihat Becak Listrik Tenaga Surya E-Cak Karya Inovasi Siswa SMA Puhua Purwokerto

E-Cak karya inovasi siswa SMA Puhua Purwokerto bertujuan menekan emisi karbon lewat penggunaan energi bersihdan membantu meringankan beban pengayuh becak yang mayoritas sudah lanjut usia.
E-Cak karya inovasi siswa SMA Puhua Purwokerto bertujuan menekan emisi karbon lewat penggunaan energi bersihdan membantu meringankan beban pengayuh becak yang mayoritas sudah lanjut usia.

TABLOIDELEMEN.com – Enam siswa Kelas XI SMA 3 Bahasa Putera Harapan (Puhua School) Purwokerto menghasilkan inovasi transportasi ramah lingkungan bernama E-Cak.

Mereka merancang E-Cak guna membantu meringankan beban pengayuh becak yang mayoritas sudah lanjut usia.

Selain itu, inovasi ini bertujuan menekan emisi karbon lewat penggunaan energi bersih.

Kendaraan berupa becak listrik tenaga surya ini tampil dalam Forum Nasional Sekolah 3 Bahasa se-Indonesia bertema “Pendidikan Tanpa Perbedaan” pada Sabtu 25 April 2026

Joseph Jefferson Setyako bersama lima rekannya menggagas proyek tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap transportasi rakyat.

Bacaan Lainnya
Milo

“Kebanyakan pengemudi becak di Indonesia itu lansia. Jadi kami ingin membantu meringankan tenaga mereka. Sekaligus mengurangi pencemaran udara,” ujar Joseph.

Secara teknis, E-Cak mampu melaju hingga kecepatan 40 kilometer per jam dengan kapasitas beban 150 kilogram.

Pengisian daya selama enam jam melalui listrik konvensional atau panel surya memungkinkan becak menempuh jarak 15 kilometer.

Tim memanfaatkan komponen sederhana, seperti dinamo listrik seharga Rp600.000 dan empat unit aki timbal senilai Rp1.000.000 agar biaya produksi tetap terjangkau.

Meskipun menggunakan material sederhana, Joseph mengaku timnya tetap melakukan riset mendalam.

“Kami pakai aki timbal karena dana terbatas. Kalau pakai litium pasti lebih bagus, tapi mahal. Dan kami juga melakukan riset bantuan AI,” tuturnya.

Keunggulan utama E-Cak terletak pada fleksibilitasnya, karena pengemudi tetap bisa mengayuh secara manual saat daya habis.

Sejumlah tokoh seperti Yudil Chatim selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI periode 2022–2025.

Serta perwakilan Konsulat Jenderal Tiongkok turut menyaksikan pameran inovasi ini.

Karya tersebut membuktikan bahwa teknologi mampu menjaga eksistensi transportasi tradisional tanpa menghilangkan identitas aslinya.

Milo