TABLOIDELEMEN.com – Manajer Persibangga, Hamzah Assadullah merespon cepat kabar kurang sedap menerpa Persibangga Purbalingga pasca keberhasilan meraih juara Liga 4 Jawa Tengah musim 2025/2026.
“Situasi itu murni merupakan masalah miskomunikasi di lapangan,” katanya di Pendapa Semar Purbalingga, Rabu 18 Februari 2026.
Hamzah menjelaskan bahwa ia tetap menyapa para pemain di area lapangan sesaat setelah tim memastikan kemenangan lewat drama adu penalti.
Namun demikian, Hamzah juga mengakui adanya kekurangan dalam koordinasi dan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh anggota tim.
Mengenai instruksi kepulangan yang terburu-buru, ia berdalih hal itu bertujuan agar tim segera sampai di Purbalingga untuk memenuhi agenda penyambutan resmi.
Kini, manajemen fokus membenahi hubungan internal guna menatap persaingan kompetisi yang lebih tinggi.
“Sekali lagi situasi yang terjadi kemarin murni merupakan masalah miskomunikasi di lapangan,” katanya
Ia menegaskan, manajemen tetap mengusung ambisi besar untuk membawa Persibangga menembus kasta Liga 3.
“Kami telah siap mengawal target tersebut jika publik sepak bola Purbalingga masih memberikan kepercayaan,” katanya.
Sebelumnya, ketegangan ini bermula saat sejumlah pemain menyatakan rasa kecewa melalui siaran langsung di media sosial pada Selasa 17 Februari 2026.
Haidar Nur Afif, pilar utama Laskar Soedirman, secara terbuka mengkritik sikap manajemen yang ia nilai kurang mengapresiasi kerja keras tim di lapangan.
Ia menyoroti ketiadaan jajaran manajemen di ruang ganti saat momen krusial usai laga final.
“Manajer Persibangga, Hamzah Assadullah tidak menemui pemain untuk sekadar memberikan ucapan selamat di locker room,” katanya.
“Kami justru melihat mereka langsung meninggalkan lokasi,” cetus Haidar live dalam media sosialnya.
Selain masalah kehadiran Manajer Persibangga, ia juga membeberkan persoalan finansial operasional.
“Para pemain harus merogoh kocek pribadi untuk melunasi biaya hotel pascapertandingan serta tarif tol selama perjalanan pulang,” katanya.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google News
















