Hadirin,
Pada ayat tersebut, ada salah satu kalimat pokok yang akan menjadi pembahasan dalam khutbah kali ini, yaitu perihal pemberian Allah kepada orang-orang beriman berupa “furqan”.
Para ulama memiliki banyak penafsiran dalam mengartikan salah satu penggalan ayat ini.
Imam Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir ad-Dimisyqi, atau yang lebih masyhur dengan sebutan Imam Ibnu Katsir (wafat 774 H), dalam kitab tafsirnya menjelaskan makna kata tersebut.
Beliau mengutip beragam pendapat ulama. Pendapat pertama, yaitu menurut Ibnu Abbas, ‘Iqrimah, Qatadah, dan Muqatil bin Hayyan, kata furqan memiliki makna jalan keluar.
Dengan kata lain, orang-orang yang bertakwa akan selalu diberi jalan keluar oleh Allah dari setiap masalah dan urusannya.
Pendapat kedua, yaitu menurut Mujahid, furqan memiliki arti keselamatan di dunia dan akhirat. Bisa juga diartikan sebagai pertolongan dari Allah.
Sedangkan pendapat ketiga, yaitu menurut Muhammad bin Ishaq, dan penafsiran ini dinilai lebih umum oleh Ibnu Katsir dari penafsiran sebelumnya
Yakni sebuah kemampuan untuk bisa hati-hati dan cermat dalam mengambil sebuah keputusan,
قَالَ مُحَمَّدُ بْنِ إِسْحَاق: (فُرْقَانًا) أَيْ فَصْلًا بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ
Artinya, “Muhammad bin Ishaq telah berkata, (maksud) furqanan itu adalah (kemampuan) untuk membedakan antara yang hak dan yang batil.” (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anil Azim, [Darut Thayyibah: 1999, tahqiq: Syekh Sami bin Muhammad], juz IV: 43).
Maksud dari kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan yang batil, adalah bahwa orang yang bertakwa akan menjadi pribadi yang bijaksana.

Meletakkan literasi digital menjadi urgensi, sebagai upaya transformasi untuk menghasilkan talenta digital dan menjadi rujukan informasi yang ramah anak, aman tanpa konten negatif.
Baca update artikel lainnya di Google News
















