Judheg, Film Panjang Ngapak Pertama dari Purbalingga, Sorot Getirnya Pernikahan Dini

Film "Judheg" mencatat sejarah baru sinema dari Purbalingga atau Banyumas Raya yang memakai bahasa Banyumasan atau ngapak sebagai bahasa utama. Sumber Foto: rekamfilms.com
Film "Judheg" mencatat sejarah baru sinema dari Purbalingga atau Banyumas Raya yang memakai bahasa Banyumasan atau ngapak sebagai bahasa utama. Sumber Foto: rekamfilms.com

TABLOIDELEMEN.com – Film “Judheg” mencatat sejarah baru sinema dari Purbalingga atau Banyumas Raya yang memakai bahasa Banyumasan atau ngapak sebagai bahasa utama.

Produksi Rekam Films ini melibatkan seluruh pemain dan kru lokal Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Banjarnegara.

Misya Latief menyutradarai film berdurasi 117 menit ini.

Film panjang ini segera melakukan penayangan perdana dunia (world premiere) dalam Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-20 tahun 2025.

“Judheg” juga berkompetisi pada program Indonesian Screen Awards. Judul internasional film ini adalah Worn Out.

Bacaan Lainnya
 Tahun Baru 2026

Judheg memiliki arti penat dalam Bahasa Indonesia. Film ini menyoroti bagaimana tubuh perempuan merekam luka sosial dan emosional, sekaligus menyimpan daya hidup luar biasa.

Film ini menjadi potret getir tentang perempuan muda yang kehilangan masa remajanya, namun tetap berjuang memberi kehidupan terbaik bagi anaknya.

Purbalingga, tepatnya Desa Tunjungmuli, Karangmoncol, menjadi latar nyata fenomena sosial yang film ini angkat.

Pos terkait