TABLOIDELEMEN.com – Film “Judheg” mencatat sejarah baru sinema dari Purbalingga atau Banyumas Raya yang memakai bahasa Banyumasan atau ngapak sebagai bahasa utama.
Produksi Rekam Films ini melibatkan seluruh pemain dan kru lokal Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Banjarnegara.
Misya Latief menyutradarai film berdurasi 117 menit ini.
Film panjang ini segera melakukan penayangan perdana dunia (world premiere) dalam Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-20 tahun 2025.
“Judheg” juga berkompetisi pada program Indonesian Screen Awards. Judul internasional film ini adalah Worn Out.
Judheg memiliki arti penat dalam Bahasa Indonesia. Film ini menyoroti bagaimana tubuh perempuan merekam luka sosial dan emosional, sekaligus menyimpan daya hidup luar biasa.
Film ini menjadi potret getir tentang perempuan muda yang kehilangan masa remajanya, namun tetap berjuang memberi kehidupan terbaik bagi anaknya.
Purbalingga, tepatnya Desa Tunjungmuli, Karangmoncol, menjadi latar nyata fenomena sosial yang film ini angkat.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google News
















