236

Jejak Sejarah Purbalingga Memang Mengagumkan

Jejak sejarah Purbalingga memang cukup mengagumkan. Dimulai sejak era purbakala, Hindu-Budha, Islam, jaman kolonial, sampai perjuangan kemerdekaan.

Pada era Hindu-Budha kita juga memiliki Prasasti Batu Tulis Cipaku dan Prasasti Bukateja yang menandakan kawasan di lereng timur Gunung Slamet itu penting pada era abad ke 5-8 Masehi.

Hal itu diungkapkan Gunanto Eko Saputro penulis sejarah Purbalingga dalam acara Teras Budaya 2021 sebuah wadah diskusi yang bertajuk ‘Menumbuhkan Rasa” tentang sejarah dan budaya Purbalingga yang digagas oleh Gerakan Mahasiswa Purbalingga (Gemalingga), secara virtual, Sabtu (31 Juli 2021).

“Purbalingga mempunyai Situs Tipar di Desa Ponjen yang merupakan situs perbengkelan purba. Situs itu pernah diteliti Prof Harry Truman Simanjuntak Bapak Arkeologi Indonesia tahun 1983 dan masuk dalam Atlas Pra Sejarah Nasional sejajar dengan situs purbakala lainnya seperti Sangiran dan Trinil. Kalau bicara era sesudahnya ada Kadipaten Wirasaba yang eksis sejak jaman Majapahit,” katanya.

Peristiwa Mrapat

Dalam acara yang juga menghadirkan, Budayawan Agus Sukoco dengan moderator Laksa Tiar Makmuria dari Gemalingga. Gunanto mengatakan, Wirasaba merupakan induk dari Banyumas Raya kini.

“Saya berandai jika saat itu tidak terjadi Peristiwa Mrapat, budaya ‘panyinyongan’ sekarang namanya bukan Banyumasan tetapi Wirasabaan,” imbuhnya.

Beralih ke era Islam, ada Perdikan Cahyana yang mengirimkan kontribusi dalam pembangunan Kesultanan Demak.

“Syech Wali Perkasa mendapat Surat Kekancingan dari Raden Patah yang menyatakan wilayah Cahyana bebas pajak dan berlaku pada era-era berikutnya,” imbuh Gunanto.

Pada kolonialisasi Belanda, Purbalingga memiliki peran penting dengan adanya pabrik tembakau, gula dan teh. Kita juga menjadi lokasi Lapangan Udara Wirasaba yang merupakan pangkalan militer penting di wilayah Jawa Tengah bagian selatan-barat.

Selanjutnya, pada saat perang kemerdekaan, rakyat Purbalingga juga bangkit untuk melawan penjajahan. Ada peristiwa Perang Blater, Perang Pepedan, Sabotase Belanda di Bobotsari dan lainnya.

“Seorang serdadu Belanda bernama Letnan Hans Gerritsen bahkan secara khusus menulis buku atas pengalaman selama tugas militernya di Purbalingga berjudul ‘De Hinderlag Bij Sindoeradja’ artinya Penyergapan di Sinduradja,” katanya.

Menurut Gunanto, semua catatan sejarah itu membuktikan orang-orang di ‘Bumi Pewira’ sudah menorehkan catatan emas sejak dulu kala. “Kita seharusnya bangga dan menggunakannya sebagai api semangat untuk membangun Purbalingga kini dan masa depan,” ujarnya.

Menggali sejarah

Sedangkan  Budayawan Agus Sukoco menyebut, saat ini sudah tak banyak orang yang tahu dengan cerita sejarah tersebut. Menurutnya, ketidaktahuan itu menyebabkan kita kehilangan jatidiri.

“Saat ini seolah-olah standar kemajuan kita adalah modernisasi yang menganut nilai-nilai barat, padahal nenek moyang kita mempunyai budaya adi luhung sendiri yang mulai terlupakan,” katanya.

Oleh karena itu, kata Agus, menggali sejarah dan budaya leluhur penting untuk mencari jati diri.

“Kalau kita tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa lalu maka kita tidak bisa menguasai masa kini maka rencana masa depan hanyalah spekulasi, keinginan, dan angan-angan,” ujarnya mengutip penyair WS Rendra.

Perwakilan panitia Sofyanudin dari Departemen Kajian Sosial dan Budaya Gemalingga berharap kegiatan ini menjadi agenda rutin agar anak muda memiliki kesadaran kesejarahan dan budaya.

“Catatan itu sudah selayaknya menjadi kesadaran bersama untuk menumbuhkan kebangaan kita sebagai orang Purbalingga. Ternyata memiliki sejarah panjang yang terentang sejak era purbakala,” katanya

 

 

 

Tinggalkan Balasan