Harganas 2022 di Purbalingga, Bupati Tiwi Ingatkan Hindari “4 Terlalu”

Harganas 2022 di Purbalingga, Bupati Tiwi Ingatkan Hindari "4 Terlalu"
Harganas 2022 di Purbalingga, Bupati Tiwi Ingatkan Hindari "4 Terlalu"

Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi (Tiwi) mengingatkan masyarakat untuk menghindari “4 Terlalu”

Pertama, terlalu muda melahirkan. Kedua, terlalu tua melahirkan. Ketiga, terlalu sering atau terlalu dekat melahirkan/tidak diatur jangka kelahirannya. Keempat, terlalu banyak (anak)

“Jangan lupa, Pak, Bu untuk bisa selalu mensosialisasikan 4 Terlalu kepada masyarakat,” kata Bupati Tiwi kepada para Kader Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD) saat puncak peringatan Hari keluarga Nasional (Harganas) sekaligus Hari Anak Nasional (HAN) Tahun 2022, di kompleks objek wisata Goa Lawa Purbalingga, Jum’at 8 Juli 2022

Bacaan Lainnya

Bupati Tiwi menyebut, bahwasanya faktor utama untuk mencegah kematian dan memastikan kesehatan ibu dan anak adalah perencanaan kehamilan.

Ia juga berpesan kepada para Kepala Puskesmas agar Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) untuk dijaga jangan sampai meningkat.

“Kematian ibu di Kabupaten Purbalingga tahun ini sudah 3, mudah-mudahan tidak meningkat. Sedangkan kematian bayi tahun ini sudah 45. Saya minta stop di angka itu. Saya mohon dengan hormat bantuan sengkuyung para Kepala Puskesmas dan para Direktur RS baik RSUD maupun RS swasta untuk bergandengan tangan menurunkan AKI AKB,” katanya.

Tidak hanya itu, Harganas kali ini juga bertemakan Ayo Cegah Stunting Agar Keluarga Bebas Stunting. Bupati mengajak kerjasama lintas sektoral agar angka stunting atau kasus kondisi gagal tumbuh anak bisa ditekan lagi.

“Permasalahan stunting tidak hanya masalah gizi, bisa juga karena lingkungan tidak sehat, RTLH,tidak punya jamban. Pernikahan dini juga berdampak peningkatan stunting, tanpa disadari anak yang hamil di usia yang belum siap bisa berisiko stunting,” katanya.

Ia membeberkan angka Stunting di Purbalingga setiap tahun menurun, tahun 2017 angka stunting masih 28,7% sedangkan 2021 turun menjadi 15,7%.

Stunting merupakan hal yang penting, karena menyangkut kualitas SDM ke depan, sebab saat bonus demografi nanti sangat dibutuhkan SDM unggul. Pemerintah pusat menargetkan angka stunting nasional bisa turun menjadi 14%

“Untuk mencapai 14% kita (Purbalingga) hanya butuh effort untuk bisa menurunkan 1,7%. Mudah-mudahan dengan kita bergandengan dengan seluruh stakeholder target 14% di tahun 2024 ini bisa berhasil,” katanya.

Terkait stunting, Purbalingga juga menjadi pilot project penelitian dalam upaya pencegahan stunting nasional.

Satu eksperimen dilakukan di Desa Karangaren, Kecamatan Kutasari dimana anak-anak stunting disupport susu dan telur setiap hari dan dengan pendampingan akhirnya bisa lepas dari kriteria stunting.

“Artinya kalau sudah bisa berhasil seperti ini, program ini harus bisa direplikasi oleh seluruh Puskesmas se-Purbalingga, bapak ibu rekan-rekan kepala Puskesmas siap apa tidak? kalau tidak siap besok langsung saya copot soalnya,” katanya.

 

 

 

Tinggalkan Balasan