TABLOIDELEMEN.com – Momentum bulan suci memicu gairah ekonomi kreatif di wilayah Kabupaten Purbalingga melalui kemunculan sentra jajanan musiman.
Banyak warga memadati sejumlah titik strategis guna berburu kudapan berbuka puasa sejak pukul empat sore.
Fenomena ini menciptakan rantai ekonomi yang kuat antara pedagang lokal dan masyarakat penikmat kuliner tradisional.
Pusat Jajanan Berbuka Puasa
Kawasan Alun-alun Purbalingga menempati posisi teratas sebagai magnet utama perburuan jajanan Ramadan.
Para pedagang menyajikan beragam pilihan mulai dari mendoan hangat hingga es kelapa muda yang menyegarkan dahaga.
Arus pengunjung yang konsisten setiap harinya menunjukkan bahwa alun-alun tetap menjadi ikon berkumpulnya warga dari berbagai kecamatan.
Selain pusat kota, Gang Mayong menawarkan sensasi wisata kuliner malam yang sangat legendaris bagi penduduk setempat.
Jalan Wirasaba ini bertransformasi menjadi koridor penuh aroma masakan yang menggugah selera, seperti bakso, mie ayam, sate ayam dan kambing serta pecel lele.
Keunikan tata letak serta variasi makanan yang lengkap membuat area ini selalu penuh sesak menjelang azan magrib.
Agus Priyanto, pedagang kaki lima menyatakan bahwa omzet penjualan mengalami peningkatan signifikan selama bulan puasa.
Menurutnya antusiasme pembeli tahun ini melampaui ekspektasi sehingga stok dagangan seringkali habis sebelum waktu berbuka tiba.
“Kami berupaya menjaga kualitas rasa dan kebersihan agar konsumen merasa nyaman saat berbelanja takjil,” katanya.
Eksplorasi Rasa di Sambut Waktu Berbuka
Lokasi lain yang tidak kalah menarik mencakup area sekitar Stadion Goentoer Darjono dan kompleks Pasar Segamas.
Penjual di titik ini lebih banyak menawarkan lauk-pauk matang serta sayur mayur siap saji untuk kebutuhan makan malam keluarga.
Transisi kemacetan yang terkendali oleh petugas keamanan memastikan proses transaksi jual beli berjalan dengan sangat lancar.
Tiga tempat pendukung lainnya tersebar di wilayah Bobotsari, Bukateja, dan jalur protokol menuju Padamara.
Kehadiran pasar sore di kecamatan tersebut memudahkan akses warga pinggiran dalam mendapatkan makanan berkualitas tanpa harus menempuh jarak jauh.
Keberagaman tujuh lokasi ini membuktikan bahwa Purbalingga memiliki potensi wisata religi dan kuliner yang sangat kaya serta inklusif.

Awali dengan kepedulian, niscaya akan menjadi gagasan dalam menulis
















